Kamis, 16 November 2017

Komunikasi Anak Lelaki

[09:22, 16/
Masalah terbesar yang sering dihadapi dalam pengasuhan itu adalah komunikasi, hampir 80%  problem berasal dari sini, ga heran masalah komunikasi paling sering dibahas baik dibuku, seminar, maupun workshop, sebab kesalah fahaman dalam pengaplikasiannya bisa berakibat fatal, boleh searching hampir semua berita menggenaskan keluarga berawal dari ketidak tepatan komunikasi....

Berkomunikasi dengan anak – anak melibatkan pertukaran kata – kata, gagasan dan perasaan, kita berkomunikasi dengan wajah (cemberut atau tersenyum), dengan tindakan (tamparan atau pelukan), dengan diam ( hangat atau dingin), juga dengan kata – kata ( ramah atau ketus).

Penyampaian pesan yang salah terhadap anak tidak hanya sekedar membuat anak tidak mengenal dirinya (dimana kemampuan mengenal diri ini penentu self esteem seorang manusia), tetapi juga sangat berpengaruh membentuk karakter anak, dimana ini akan berdampak pada anak dalam mengenal nilai – nilai kehidupannya baik dalam pergaulannya, pendidikannya bahkan juga agamanya (baca ; tauhidnya).
😱😢 ngeri dampaknya....

Karena itu memahami keunikan komunikasi anak merupakan tugas terbesar pengasuhan kita, setelah kita memahami bahwa anak lelaki itu berbeda dengan anak perempuan, kita juga meyakini misi kehadiran mereka kemuka bumi ini juga membawa peran berbeda, maka ga ada salahnya kalau kita juga belajar memahami uniknya komunikasi anak lelaki, agar tidak terjadi salah faham......

Tersebutlah corpus collosum, sebuah jembatan penghubung hemisper otak kanan dan kiri, kabarnya corpus collosum anak lelaki itu lebih tipis dibandingkan anak perempuan, bagian otak ini juga yang sering dinyatakan bertanggung jawab atas ketidakmampuan lelaki menangani banyak tugas dalam satu waktu, berbeda dengan perempuan yang terkenal multi tasking disebabkan memiliki corpus collosum lebih tebal 30%, 😯

jadi ga usah ngabisin energi dengan teriak-teriak ala tarzan untuk memanggil apalagi bertanya serta menyuruh anak lelaki kita yang sedang bermain, maklum mereka didesign agar bisa fokus dengan satu tugas (ingat mereka pemimpin), kebayang ga kalau pemimpin ga fokus, bisa berabe kan urusan, itu sebabnya jika kelak anak lelaki menjadi ayah mereka sangat fokus, sebab jembatan penghubungnya kedua belahan otaknya tipis maka kalau mereka sedang bekerja, jarang yang bisa nyambi, pasti akan berhenti, walau hanya persekian detik, ga usah sakit hati kalau suami didepan laptop kita ngomong dicuekin karena memang mereka tidak diciptakan untuk bisa multi tasking.....😌

karena itu penelitian mengatakan anak lelaki hanya mengeluarkan 7000 kata perhari, bandingkan dengan anak perempuan yang mengeluarkan 20.000 kata perhari  (pantesan kita cerewet yaak)  😂😂😂     ini disebabkan lelaki hanya menggunakan otak kiri ketika bicara, sedangkan perempuan menggunakan kedua belahan otaknya, makin menebalkan keyakinan kita bahwa lelaki itu diciptakan sebagai pemimpin, karena mereka cool dan beribawa, fikirkan saja kalo seandainya pemimpin itu kebanyakan ngomong kayak kita ya, bakalan jatuh itu wibawanya?......

Begitu juga jaringan otak yang dipakai, anak lelaki lebih banyak memiliki gray matter (materi abu-abu) berbanding terbalik dengan anak perempuan yang lebih banyak memiliki white matter (materi putih), jika diibaratkan dengan komponen komputer, materi abu-abu merupakan prosesor komputer (elemen utama), sedangkan materi putih adalah jaringan kabel yang menghubungkan elemen komputer, maka inilah yang menyebabkan anak lelaki jika berkata lebih suka to the point, garis besarnya saja,  langsung fokus solusi, menuju tujuan pembicaraan, berbeda dengan perempuan yang lebih menimbang rasa, sebenarnya ini sangat menunjang fitrah qowwam mereka, bayangkan apa yang terjadi jika pemimpin ga bisa kasih solusi???........

Masya ALLAH sungguh luar Maha Besar ALLAH dengan semua ciptaanNYA

Seperti yang kita ketahui bersama kalau otak anak lelaki baru sempurna diusia 18 tahun, sebelum itu otak kanannya berkembang pesat, mulai usia 7 tahun baru otak kiri anak lelaki perlahan berkembang (ini juga alasan kenapa batita lelaki lebih banyak yang mengalami speach delay karena mereka memang dominan kanan), hingga di umur 14 tahun otak kiri laki-laki akan berkembang melampaui otak kiri wanita, jadi ingat bahwa tugas pengasuhan kita sebagai ortu itu sampai anak usia 14 tahun,  Masya ALLAH, luar biasanya sempurnanya agama ini,  bagaimana islam membagi pendidikan anak dengan 3 masa >>> 7 tahun pertama (ibarat raja), 7 tahun kedua (ibarat tawanan), 7 tahun ketiga (ibarat perdana mentri).......😊

Mungkin ini juga jawaban kenapa nabi Muhammad menikahkan Usamah bin zaid di usia 14 tahun, karena memang otaknya sudah sangat berkembang, hingga ketika diusianya 18 tahun Usamah dipercaya nabi panglima perang memimpin umar bin khattab dan beberapa sahabat senior lainnya, karena fitrah qowwam mereka berkembang maksimal, padahal tentu saat itu teori tentang otak ini belum familiar.....

Keunikan lainnya adalah anak lelaki tidak suka kontak mata ketika berbicara, ga usah kesel apalagi sampe maksa anak lelaki kita untuk menatap kita kalau sedang bercakap dengannya... berhentilah bicara “Ayo abang coba lihat mama”... percayalah itu ga ada gunanya.

Ketika menjadi suami mereka pun jika berbicara dengan istrinya jarang mau kontak mata (jangan mau kehipnotis sama drakor, dimana pemeran pria kalau ngomong tatap mata), percayalah bukannya mereka ga peduli atau acuh tak acuh, melainkan memang begitu mereka diciptakan........bayangkan kalau pemimpin itu kalau bicara serius natap mata kita bukannya kita akan keki serasa dihakimi?.......... 

makanya ga usah heran kalau banyak ahli yang nyaranin >>>  jangan tanya apapun sama anak lelaki mu sepulang sekolah, cukup sambut dia, senyum manis, pastikan dia kenyang, seger,  baru deh tanya-tanya .......

Karena itu ga banyak manfaatnya kalau kita sibuk mengotak atik dengan keunikan mereka, lebih baik kita kembangkan komunikasi mereka....

Berikut beberapa ikhtiar untuk komunikasi produktif kepada anak lelaki :

1. Rubah paradigma kita dengan perbanyak syukur dan sabar
Kenapa? Karena dalam keseharian kita sering merasa bahwa waktu “sempit” atau “sedikit”, hingga membuat kita memilih jalan pintas yaitu bicara tergesa-gesa, padahal kita tahu bahwa  bicara tergesa-gesa, apalagi sambil marah-marah dengan muka garang tanpa senyum hanya akan membuat pesan yang kita sampaikan gagal diterima otak anak lelaki kita....

 Ingat corpus collosumnya tipis, karena itu bicaralah dengan tenang.... bagaimana bisa tenang , ya tentu saja dengan syukur (cherish every moment) dan sabar (slowdown mommy).... ketika kita ada dikeadaan syukur dan sabar, innsya ALLAH akan dimudahkan untuk memetakan kita bahwa masalah siapa ini? apakah need or want?  juga memudahkan kita untuk  tersenyum. Masih ingatkan bahwa lelaki menyukai senyuman, sebab senyum dapat mengaktifkan hormon seretonin yang membuat anak lelaki merasa senang.  jika perasaan senang, otak bisa menyerap lebih banyak......

2. Hindari parenthogenic
Pesan bu elly risman hindarilah 12 gaya komunikasi populer karena akan berdampak luar biasa terhadap konsep diri anak,  jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa tidak percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri. Padahal sangat penting bagi anak untuk belajar percaya dengan perasaannya dan dirinya,  hal tersebut akan mendukung perkembangan emosinya dan mendorong anak tumbuh menjadi percaya diri. Jika perkembangan emosi anak baik, ia juga akan memiliki kontrol diri yang baik ketika menghadapi suatu masalah, bahkan ia akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

12 gaya populer >>> Memerintah, Menyalahkan, Meremehkan, Membandingkan, Memberi cap, Mengancam, Menasehati, Membohongi, Menghibur, Mengeritik, Menyindir, Menganalisa (Lebih detail baca komunikasi dalam parenting)

3. KISS (Keep Information Short and Simple)
Jelas ya kalau anak lelaki hanya menggunakan otak kiri saat berbicara atau mengolah informasi, jadi mereka hanya nangkap 15 kata pertama, selebihnya ngawang-ngawang, maka langsung saja TO THE POIN, sampaikan poin tujuan pembicaraan dalam kepingan kata-kata pendek, untuk usia 7 tahun kebawah bagusnya dibawah 10 kata,  makin kecil umur makin dikit kata nya, jadi 10 kata berhenti, nunggu balasan, baru lanjut lagi 10 kata dst, diatas 7 tahun pun cuma bisa nangkap 15 kata, ini juga tips buat istri kalau bicara sama suami jangan lebih 15 kata, nunggu respon baru lanjut 15 kata dst

4. Sentuh anak lelaki ketika mau mengajak nya bicara
Salah satu hobi kita adalah teriak atau ngomong dari jarak jauh ketika manggil, minta tolong atau nanya sesuatu yang tetiba kita inget sama anak lelaki kita, lucunya kita juga tau kalau mereka ga bakal respon, tapi tetep aja kita lakuin.......

Karena fikiran lelaki itu fokus, maka untuk mengalihkan perhatiannya kekita, maka sentuhlah bagian tubuhnya, bisa dengan mencolek atau menepuk, tapi inget biarkan mereka tak kontak mata dengan kita, dengan begitu insya ALLAH mereka akan segera merespon kita dengan baik....

5. Latih kemampuan komunikasinya
Ini cukup panjang pembahasannya, intinya adalah anak lelaki tidak suka berpanjang lebar, padahal dikehidupannya kelak akan ada masa yang menuntutnya untuk berpanjang lebar, maka mereka harus dilatih peka memahami emosi lawan (digunakan untuk deal2 bisnis dan politik), juga dilatih memahami pemahaman lawan bicara (digunakan ketika berbicara didepan audience atau ketika blusukan sebagai pelayan rakyat).....

Sebenarnya masih banyak lagi hal yang harus dilakukan dalam mengembangkan komunikasi anak lelaki ini,  tetapi poin-poin diatas saya sarikan sebagai poin paling mendasar yang wajib dilakukan.....

Wallahu ‘alam bishowab
My Home Parenting
Serie Qowwam vol 5
by : Indah Hendrasari


Leadership Anak Lelaki



Punya pengalaman betapa alotnya deal2an dengan anak lelaki?
 Pernah ngerasain betapa keukeuhnya mereka akan kemauannya?
Udah ngalamin gimana sulitnya ngatur mereka?
Tau banget rasanya jatuh bangun mendisiplinkan mereka?
ga kehitung lagi gimana keselnya kita ketika mereka dibilangin bukannya manut tapi malah masang badan nantang?
serta betapa lelahnya kita udah ngomel panjang kali lebar kali tinggi, dianya malah woles aja pasang wajah innocent ........

Kalau daritadi kita ngangguk-angguk sambil nyengir, dan ngerasa bahwa bener itu pernah kita rasain, maka selamat deh, kita ternyata selama ini dianugerahi anak lelaki yang laki banget....... Alhamdulillah

Allah telah mendesain bahwa lelaki kelak akan memimpin dimuka bumi ini, maka secara otomatis hal-hal yang harus dibutuhkan oleh kwalitas pemimpin sudah ALLAH instalkan kepada anak lelaki kita, sebagaimana kita juga udah tau bahwa sifat dasar lelaki itu adalah qowwam (baca serie qowwam vol.1),  ini juga jawaban kenapa ALLAH ciptakan otak lelaki berbeda dengan otak perempuan, dimana otak lelaki seimbang kanan dan kiri baru diusia 18 tahun, sehingga selama itu otak kanan lelaki lebih aktif  bekerja,  makanya ga usah heran kenapa anak lelaki cenderung santai, rileks, dan senang main-main.

Kalau udah main kayak ga ada habisnya, full power. Mereka juga lebih suka bertindak sebelum berpikir, selalu berani menaklukan tantangan, suka kegiatan ekstrim bahkan nyaris berbahaya......

Ini diperlukan sebagai bekal mereka sebagai pemimpin kelak, coba bayangkan kalau pemimpin itu penakut, pencemas, ga berani bertindak, bisa-bisa mereka ngumpet dibelakang orang yang dipimpin, bukannya malah melindungi eeh malah lari dari tugas dan tanggung jawabnya, kan berabe.  Lebih parah kalau pemimpin itu mudah menyerah, ga kreatif, kemampuan bertahan untuk tetap melangkah tak ada, waah bisa kebayang kan gimana rasanya.....

Itulah sebabnya anak lelaki yang difasilitasi fitrahnya dengan baik, maka jiwa kepemimpinan yang memang sudah diinstalkan oleh ALLAH akan menjadi qowwam yang baik, jika kelak dia menjadi suami akan mempu menempa dan memberdayakan keluarganya dengan baik,  sebagaimana keqawaman Rasulullah yang tampak dari istri-istrinya. Dimana setelah menikah seluruh potensi istri-istrinya berkembang dengan baik. Aisyah tercatat menjadi gurunya dari ulama fiqih dan hafal lebih dari 1200 hadis. Istri rasul lain yang memiliki potensi menjadi ahli sosial, sehingga mendapat ummul masakin, ibunya orang-orang miskin. Hafsah menjadi ahli ibadah, asshowama al qawama, ahli puasa dan ahli ibadah. Maimunah memiliki keahlian menulis, berbagai wahyu Allah ditulis, berbagai sunah rasul ditulis dan disimpan. Istri Rasulullah menjadi bintang karena keqawaman suaminya....

Hingga kisah menakjubkan para anak lelaki ini bukan lagi sekedar dongeng keren, ini jugalah kenapa Usamah bin Zaid yang mampu menjadi pemimpin perang berusia 18 tahun, Saad bin Abi waqqash berusia 17 tahun mampu melontarkan anak panah dijalan ALLAH,  Zaid bin Tsabit berusia 13 tahun menulis wahyu, Atab bin Usaid diangkat menjadi gubernur Mekkah ketika berusia 18 tahun, Muhammad Al-Fatih sang penakluk konstantinopel  seorang pemuda berusia 22 tahun, Abdurrahman Annashir ahli sains yang tiada duanya ketika berusia 21 tahun....

Karena seksualitas lelaki mereka berhasil dididik dengan baik.....

Mereka tidak diberangus jiwa qowwam nya, melainkan difasilitasi sedemikian rupa hingga berhasil menjadi manusia berdaya diusia belia, ga heran kenapa kegemilangan islam bisa terjadi, disaat manusia serius menyiapkan generasi, disitulah sebenarnya dia sedang serius menciptakan peradaban gemilang....

Lalu apa saja ikhtiar yang bisa kita lakukan, agar leadership anak lelaki kita bisa difasilitasi dengan baik :

1. Berdoa sejak anak didalam kandungan, doakan agar ia mendapatkan taqdir terbaiknya

2. Bangun akal anak lelaki kita dengan shiroh di 7 tahun pertamanya

Banyak orangtua tahu bahwa 7 tahun pertama itu adalah layaknya raja, tapi masih banyak yang gagap dengan makna raja itu, alih-alih menyiapkan anak bermental raja, yang ada malah menyiapkan anak menjadi generasi peter pan syndrome #miris hingga ga heran ketika dewasa bukannya berdaya malah selalu bawa bahaya ....

Pembangunan akal sangat menentukan diusia ini, perbanyak bercerita tentang shiroh keimanan, kepahlawanan, akhlaq dan value diri

3. Kuatkan akal anak lelaki dengan dialog di 7 tahun keduanya
Kenapa bisa ada lelaki dewasa yang prilakunya tidak bijak?.....

jika ditelusuri bisa jadi jawabannya disini, banyak orangtua yang menyepelekan dialog dimasa 7 tahun kedua.

Karena perlahan otak logika mereka merangkai diusia ini (tetapi belum sempurna, karena sempurna baru usia 18 tahun) maka disaat ini biasanya anak lelaki kritis, lebih banyak bantahnya daripada nurutnya, ego mereka pun tambah kuat, ini penting karena mereka memang ditaqdirkan jadi pemimpin, bayangkan jika pemimpin ga punya ego, bisa-bisa ga punya prinsip, keputusan tiap bentar berubah, wah kan kacau......

Maka seringlah ajak anak lelaki kita dialog (bukan ceramah), ingat bicara sama anak lelaki itu harus TO THE POINT, jadi kalau ngajak mereka berdialog langsung kepokok point nya, jangan lama-lama karena corpus collosum mereka tipis, ga bisa nangkap banyak omongan, hanya 15 kata pertama saja yang bisa mereka tangkap, selebihnya ngawang2....

Apa yang didialogkan >>> Realita kehidupan, merangkai mimpi masa depan, masalah keummatan, keimanan, persiapan diri menjalani peran kehidupan dsb

4. Kembangkan akal anak lelaki dengan beragam aktivitas di 14 tahun pertama kehidupannya

Ingat anak lelaki bukan untuk dipingit, mereka harus disiapkan agar bisa berdaya diluar, mereka kelak akan memimpin bumi ini sebagai khalifah, karena itu kayakan aktivitas mereka...

7 tahun pertama perbanyak aktivitas tak terstruktur, penuh imaginasi dan kreatifitas tinggi, melatih fisik tangguh dengan berenang, tracking, camping, mountaineering dsb...

7 tahun kedua perbanyak aktivitas yang menggali gagasan mereka, dengan menggembala,  tour de talent, backpacker, pertukangan, kehidupan di masyarakat, magang, project sosial masyarakat, nah di usia 10 tahun seriuslah menggali bidang bakatnya (ga usah terlalu dini, karena mereka ditaqdirkan untuk menjadi leader, lebih utama pastikan jiwa leader mereka dulu baru bidang khususnya), anak lelaki fokuskan hanya 1 bidang bakat saja yang dia expert, cobalah gali shiroh bagaimana Rasululloh menyiapkan generasi anak lelaki dengan 1 orang 1 bidang bakat khusus, inilah yang membuat islam kuat dan gemilang, jangan buat anak lelaki kita multi talenta .....

5. Sentuh jiwa anak lelaki dengan bermain bersamanya di 7 tahun pertama

Ingat anak lelaki itu suka bermain, makanya ga usah heran kalau mereka itu loyal banget sama orang yang bersedia menjadi teman mereka, tau kan slogan anak lelaki bahwa teman adalah diri mereka, ini juga jawaban kenapa anak lelaki yang tidak ditemani oleh orangtua di 7 tahun pertama, kelak lebih suka menjadi anak geng, dimana mereka rela melakukan hal-hal diluar nalar hanya untuk diterima menjadi anggota geng, atau ketika menjadi suami dan ayah lebih mentingin kongkow bareng temennya dibanding turun tangan mengurus keluarga.....

Nah tingga pilih, mau anak lelaki kita loyal sama kita atau sama yang lain.....

6. Pengaruhi  jiwa anak lelaki dengan bersahabat dengannya di 7 tahun keduanya

Sebagai tawanan (7 tahun kedua adalah anak sebagai tawanan, yang maknanya mereka harus disiplin dan teratur), mereka membutuhkan sahabat untuk bersandar, seseruan bareng, tertawa bersama, melalang buana bersama, kawan curhat, kawan berbagi rahasia, berbagi kegalauan dsb

Agar efektif persahabatan itu, maka buatlah jadwal rutin sebagai hobi bersama, yang bisa membuat obrolan ga ada habisnya, itu kenapa Rasululloh sangat care dengan hobi para sahabat diusia cilik mereka....

oia masa ini paling berpengaruh dan menentukan adalah ayah, maka disini ayah berperan aktif, berikan tugas ini pada sang ayah, nah jika ayah tak ada, carilah ayah pengganti yang kompetensinya bisa menunjang ini....

7. Didik anak berbakti pada orangtua
Sebenarnya fitrah anak lelaki itu adalah penyayang, tau ga sih kalau berdasarkan penelitian lelaki itu jauh lebih cepat melakukan reaksi emosi, karena sebenarnya lelaki itu hatinya lembut (ingat mereka pemimpin, maka sudah pasti ALLAH ciptakan mereka sempurna memenuhi kompetensi pemimpin), tugas kita hanya jangan merusak ini, sebab tanggung jawab anak lelaki kepada orangtuanya tidak putus walau mereka menikah, sebab anak lelaki adalah klan penerus keluarga....

Karena itu ajarkan anak menjadi wali keluarga, didik mereka sebagai value keeper keluarga, beri tanggung jawab pekerjaan rumah tangga (jangan pernah membayar mereka dengan uang untuk ini, karena ini adalah kewajiban yang harus ditanamkan, bukan diiming-imingi).

Sebenarnya masih banyak lagi hal yang harus dilakukan dalam  memfasilitasi leadership anak lelaki ini,  tetapi poin-poin diatas saya sarikan sebagai poin paling mendasar yang wajib dilakukan.....
Wallahu ‘alam bishowab

My Home Parenting
Serie Qowwam vol 4
by : Indah Hendrasari

Minggu, 12 November 2017

KOMUNIKASI PRODUKTIF #10


Alhamdulillah dengan sepenuh perjuangan sampailah dipenghujung tantangan dihari kesepuluh.  Namun sejatinya, setiap hari adalah sebuah kesempatan untuk menorehkan prestasi terbaik dalam membersamai anak, tak terbatas pada setiap 10 hari tantangan saja. Tapi setidaknya dalam sepuluh hari terakhir ini mengajarkan banyak hal. Tentang kesabaran, tentang strategi dalam komunikasi, tentang kelekatan (bonding) dengan anak, dan sederet hasil evaluasi pengasuhan yang saya rasakan. Membersamai tumbuh kembang anak anak adalah sebuah anugerah. Dengan segala kerempongan dan kerepotannya. Tentu suatu saat akan merasakan manisnya buah ketelatenan dalam membimbing mereka.
Seperti pagi ini, karena tidak ada rencana keluar rumah dan masih dalam masa pemulihan karena sakit. Mamak punya ide untuk membuat pohon karakter, yang bisa dijadikan hiasan di dinding.
Apakah anak anak langsung mau, oh tentu tidak.. (hehehehe)
Mamak menyiapkan semua bahan dan alat  yang diperlukan. Kertas, gunting, lem, spidol, krayon dan tisu. Awalnya anak anak tidak merasa tertarik untuk ikut membantu, mereka masih asik dengan playdoughnya.
Saya keluarkan buku buku dari rak dan mencari referensi yang pas untuk membuat kata kata dalam pohon karakter. Mulailah membuat pola, pohon, daun dan buah. Dan anak anak belum juga tertarik. Dan tara, tak selang lama setelah mamak mulai menggunting pola mereka berdatangan untuk membantu.
“aku bantuin menggunting, ummi” kata kakak alissa
“ghizan juga, “ katanya tak mau kalah.
Oke – oke boleh semua membantu ummi, tapi ada syaratnya ya..
1.       Guntinglah dengan hati-hati
2.       Guntinglah dengan rapi dan seperti biasa sampahnya dikumpulkan di pojokan dulu. Setelah terkumpul baru dibuang di tempat sampah.
3.       Tidak saling berebut karena pekerjaan kita banyak, kalau saling berebut nanti pekerjaan menggunting malah tidak selesai.
Setelah mendengar penjelasan mamak, mereka menggunting dengan penuh semangat, karena penasaran pengin tahu seperti apa jadinya pohon karakter itu.

Dengan belajar komunikasi produktif kerempongan seriweuh apapun akan terasa ringan dan enjoy karena nalar lebih diutamakan ketimbang emosi.

#hari10
#GamesLevel1
#Tantangan10hari
#KuliahbunsayIip
#KomunikasiProduktif


KOMUNIKASI PRODUKTIF #9



Dihari yang ke sembilan dalam menerapkan komunikasi produktif, ada saja tantangannya. Namun saya merasakan ada banyak kemanfaatan yang saya rasakan. Komunikasi produktif merupakan salah satu cara untuk menyampaikan pesan kepada lawan bicara dengan cara yang lebih efektif efisien dan mengena. Sebagai ibu rumah tangga sekaligus ibu bekerja, pekerjaan rumah sering kali terbengkelai karena alasan waktu yang sempit dan kelelahan. Terlebih kondisi yang jauh dari suami. Oleh karena itu untuk menjaga kewarasan baik jiwa dan raga, setelah berembug dengan suami akhirya bersepakatlah menggunakan jasa khadimat (ART) meskipun sudah sangat faham resiko resiko dan kemungkinan  hal yang tak mengenakkan terkait adanya ART dirumah.
Bismillah, sudah sebulan lebih pekerjaan rumah banyak terbantu oleh kehadiran ART sebut saja teteh. Meskipun masih banyak disana sini pekerjaan yang menurut saya kurang rapi, tapi ya sudahlah dari pada tidak dikerjakan sama sekali.
Mencoba untuk mengajaknya ngobrol dan memberi tahu agar kekurangan ataupun kesalahannya dapat diperbaiki di lain waktu. Yang terpenting adalah pesan yang saya sampaikan harus jelas. Pekerjaan yang saya harapkan dari teteh juga harus jelas.  Untuk mengurangi rasa tidak “puas” atas pekerjaan teteh, dan untuk selalu mengingatkan SOP nya akhirnya saya buatlah tulisan yang berisi daftar pekerjaan yang harus diselesaikan. Hanya saja saya tetap menerapkan positive dicipline. Agar apa yang saya inginkan menjadi sesuatu yang ringan dan mudah untuk teteh kerjakan.
Menerapkan komunikasi produktif lebih memungkinkah diri kita untuk tetap sehat jiwa dan jauh dari rasa stress.

#hari9
#GamesLevel1
#Tantangan10hari
#KuliahbunsayIip
#KomunikasiProduktif


KOMUNIKASI PRODUKTIF #8



Masih melanjutkan rangkaian hari hari bersama games level 1 tantangan komunikasi produktif.  Kebetulan hari ini anak anak masih kurang sehat karena sakit cacar air. Jadilah mamak harus ekstra sabar dalam menemani mereka bermain dan belajar. Pasti merasa bosan sekali karena sudah hari yang keempat meraka didalam rumah dan hanya sesekali keluar rumah.  Mamak harus kreatif untuk menyediakan sarana bermain indoor. Bermain playdough sudah tak lagi dilirik.
Pengin bikin kemah – kemahan katanya.
Wah, kemah or kemping kan identik dengan kegiatan outdor sedangkan kondisi mereka belum memungkinkan untuk berlama lama diluar.
Setelah dicoba dengan berbagai macam cara, mulai dari membuat rumah rumahan dari kardus bungkus lemari plastik, dari alas karpet yang dikaitkan dengan kursi, tetapi belum membuat anak anak merasa terpuaskan.
Wajahnya sudah mulai BT karena keseruan bermain kemping seperti yang mereka inginkan belum mereka dapatkan.
Mamak sudah mulai pesimis, pakai apa ya? Sedangkan tenda belum punya.
Ayo kakak, kita fikirkan kita buat tenda dari apa yang dirasa nyaman untuk bermain? Tanyaku.
Kakak mulai bingung dan mondar mandir kedepan dan kebelakang.
“emangnya bisa mi? “ tanya kakak. Aku jawab “ pasti bisa “ sembari meyakinkan.
Akhirnya, ketemulah ide untuk menjadikan jemuran pakaian sebagai tiang tenda.
Mamak mulai menyiapkan seprei kakak menyiapkan alasnya dan adik juga ikut beres beres.
Alhamdulillah akhirnya tenda untuk kemping jadi juga, dan lebih lapang serta luas. Bisa digunakan bertiga. Bisa membacakan kisah dan bermain peran di dalam tenda. Duh senangnya.


#hari8
#GamesLevel1
#Tantangan10hari
#KuliahbunsayIip
#KomunikasiProduktif

Sabtu, 11 November 2017

KOMUNIKASI PRODUKTIF #7



Yes, weekend cukup dirumah saja.
Anak anak sedang demam dan timbul bintil bintil berair yang tak lain dan tak bukan cacar air. Rewel seharian bahkan sampai malam. Meskipun masih aktif bermain seperti biasa, tetapi kalau gatel sudah mulai menyerang, rewelnya bukan main. Kakak adik minta di gendong padahal mereka bukan bayi lagi.
Belum lagi rengekan untuk main diluar rumah, kalau tidak belajar tentang komunikasi produktif mungkin saya sudah teriak dan mengeluh kecapean.
Makan nggak mau, minum susu hanya sedikit, diolesi salep menolak.
Pusiang kepala, tapi mencoba tetap berpikir dengan kepala dingin. Bagaimana weekend ini benar benar menjadi waktu istirahat yang efektif, setelah sepekan kemarin sibuk dengan pekerjaan.
Setelah dibujuk dengan seribu jurus supaya mereka mandi, ummi masih harus mengulur kesabaran agar mereka mau diolesi obat salep hasil beli di apotik.
Adik menolak dengan berbagai alasan. Ummi tak boleh menyerah karena kakak adik harus sembuh dan tidak berlama lama meliburkan diri dari persekolahan. Hehehe
Jadilah menerapkan jurus membujuk dengan nasihat menjadi refleksi pengalaman
“ ummi dulu pernah mengalami sakit seperti adik, dan rasanya tidak nyaman, gatel dan pengin digaruk agar gatelnya hilang. Rasanya sakit sekali sama seperti yang adik rasakan. Tapi ummi punya keinginan untuk sembuh supaya bisa bermain dan belajar lagi dengan teman, makanya ummi mau berobat dan diolesi salep “
Akhirnya luluh juga adik mau diolesin salep dan tidak menggaruk lukanya.
Semoga kakak adik lekas sembuh ya

#hari7
#GamesLevel1
#Tantangan10hari
#KuliahbunsayIip

#KomunikasiProduktif

KOMUNIKASI PRODUKTIF #6



Menumbuhkan kecintaan anak terhadap kebaikan dan kesungguhan untuk mencintai aktifitas ibadah membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Kesabaran untuk selalu mengingatkan tentang hal hal baik yang harus selalu dilaksanakan ataupun hal hal buruk yang harus dihindari.  Terkait dengan ucapan,  perilaku anak ataupun respon ketika menghadapi situasi dan kondisi yang membuat anak tidak nyaman nama untuk meminimalisir tantrum.
Terkait dengan pembiasaan ibadah (sholat&ngaji) anak anak  target saat ini tidak terlalu muluk muluk, yang penting mereka senang dengan aktifitas ini. Belum sepenuhnya lima waktu sholat dikerjakan, tetapi paling tidak mereka senang menyambut panggilan adzan.
Seperti siang ini, kakak sedang asyik bermain peran dokter dokteran bersama adiknya. Kelihatannya seru sekali.
Adzan dhuhur sudah berkumandang saatnya untuk sholat kataku mengingatkan kakak.
“ya Mi, nanti” jawabnya
Mau berapa menit lagi?
“Sepuluh menit” jawabnya.
Selang sepuluh menit belum juga beranjak.
Sepertinya keinginan ummi untuk mengajak kakak sholat tepat waktu belum bisa dijalankan. Kucoba dekati dan ajak dia ngobrol seolah olah ikut dalam permainannya. Setelah nyambung barulah misi ummi untuk mengingatkan kakak sholat ummi sampaikan, berusaha dengan rumus mengendalikan intonasi dan menggunakan suara ramah serta metode Keep Information Short & simple (KISS). Alhamdulillah akhirnya kakak mau menyudahi mainnya dan melaksanakan sholat dhuhur.
Semoga bisa terus istiqomah, dan lebih baik lagi.

#hari6
#GamesLevel1
#Tantangan10hari
#KuliahbunsayIip
#KomunikasiProduktif

KOMUNIKASI PRODUKTIF #5


Menuangkan resume kegiatan komunikasi produktif selama empat hari dalam satu waktu, oleh karena kegiatan yang padat merayap di sekolah dan kondisi anak anak sakit (cacar air).
bismillah semoga masih dapet “ruh”nya.
Pada tantangan hari kelima, mencoba untuk menerapkan komunikasi produktif dengan abinya anak anak. Jarak yang memisahkan kami tidak jarang menimbulkan miss persepsi dalam komunikasi, yang pertama karena kaidah 7-38-55 seringkali tak terpenuhi.

Sedikit mengutip materi :
“Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai? Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.”

Nah disini, saya tak mampu menangkap bahasa tubuhnya, tak mampu melakukan kontak mata,  karena komunikasi yang mengandalkan pada tehnologi terkadang ada saja hambatannya, sinyal yang jelek, waktu yang tidak tepat dan lain sebagainya.
Suatu waktu aku pengin sekali nelfon, aku tahu bahwa ini jam sibuk ngantor. Tapi kalau yang namanya “rindu” sudah mulai menggoda terkadang lupa pada kaidah “choose the Right Time”. Hasilnya adalah “failed”, untung saja sudah divaksin dari penyakit “baperan”. So, akhirnya aku meminta maaf karena merasa telah mengganggu jam sibuknya, lalu paksu memberikan pilihan waktu jam segini, dan jam segini. Eh ndilalalahnya jam jam tersebut aku sibuk, hasilnya failed lagi. Aku tak boleh menyerah harus  aku coba untuk membangun komunikasi yang produktif dengan pak suami meskipun jarak telah memisahkan, tetapi hati tak boleh terpisah.. eeaaa
Masih ada sajadah panjang yang menanti untuk di gelar, memohon kepada sang Maha Cinta yang mampu menautkan hati.
Mengutip sebuah nasihat dari seorang ustadz :
Ketika berpikir tentang keluarga, saya berpikir tentang sebuah cita-cita, mimpi dan tujuan yang harus diperjuangkan.Itulah sebabnya kenapa saya tak terlalu terobsesi dengan kata "kebahagiaan". Karena bagi saya menikah dan berkeluarga adalah "Berjuang, menderita, lalu syahid di dalamnya sambil berpelukan" Ust. Aad.
Dan tak lupa qoute’s ini aku kirimkan juga kepada pak suami. Dan alhamdulillah kecupan manis mendarat di WA meskipun hanya terwakili oleh emot.

#hari5
#GamesLevel1
#Tantangan10hari
#KuliahbunsayIip

#KomunikasiProduktif

Nak, Tatap Masa Depan Dengan VISI

Ayahbunda, jika engkau bekali anakmu dengan seribu kompetensi untuk masa depan, maka di dunia yang berkembang sangat cepat ini sebentar lagi segala kompetensi itu akan kadaluarsa
Namun, jika ananda engkau bekali dengan sebuah VISI tentang diri,hidup dan masa depan, maka kelak ia akan berlari untuk mengubah dunia, dan menunaikan sejuta misi dengan percaya diri,
Jangan biarkan ananda berkali-kali tersungkur ditebas oleh angin perubahan yang begitu cepat dan keras. Tapi jadikanlah ia penghembus angin perubahan dan peradaban. Dan tak ada visi yang lebih jernih dan luas, kecuali dengan menatap dunia dari LANGIT.
_Ust. Adriano Rusfi_

Rabu, 08 November 2017

Komunikasi Produktif #4

Jakarta, 8 November 2017

Memasuki hari #4 masih dalam tantangan gamelevel1. Saya  diajak  konsisten untuk menerapkan komunikasi produktif. Lost control dan teriakan sudah mulai agak berkurang, lebih memilih untuk tarik nafas panjang dan senyum mengembang saat menghadapi masa masa sulit dan menegangkan ketika membersamai anak.
Sudah hampir sepekan anak anak langsung tantrum ketika saya pulang kerja. Jam sudah menunjukkan pukul 17.45 dan saya baru menjejakkan kaki di rumah langsung disambut tangisan kakak karena saling berebut mainan dengan adiknya. Bukan sekali dua kali ya, disambut dengan tangisan ketika pulang kerja.
Capek .. iya banget!
Tapi apa boleh buat dari pada suasana menjelang maghrib menjadi gawat saya memilih untuk melupakan rasa capek karena bekerja seharian dan kebetulan sedang banyak kerjaan di Sekolah karena akan ada kunjungan dari sekolah lain.
Seperti sore ini, saya lihat kakak alissa sudah berpakaian rapi tetapi wajahnya murung, ternyata dia ga jadi berangkat ngaji . kutanyakan sebabnya ternyata  pengin ngaji di antar ummi.
Jawabnya memelas.
 Berulang kali dia mengeluhkan kenapa ummi pulangnya terlalu sore, dan hampir maghrib.
Mendengar keluhannya saya coba tanggapi dan menunjukkan rasa empati atas pertanyaannya. Sementara belum saya jelaskan kenapa ummi pulang terlambat. Menunjukkan rasa empati atas keluhannya  saja ternyata mampu meredam tantrum dan marahnya.
Terkadang anak anak tak butuh kata kata panjang atas alasan yang kita buat, sedikit saja sisakan rasa empati telah membuat mereka merasa senang dan nyaman.
Satu pelukan dan ciuman mendarat dipipi ummi, tanda dia senang dan merasa tenang.
Menunda  rasa capek dan lelah demi anak adalah seni dalam pengasuhan.
Disinilah merasakan betapa menjadi ibu bukanlah perkara mudah, dibutuhkan kesungguhan untuk konsisten meredam rasa marah dan menghapus ego .
Setelah seharian beraktivitas diluar rumah, penginnya segera beristirahat tanpa dirusuhi oleh rengekan bahkan tangisan anak. Ya kan... ya kan...
Ini namanya jauh panggang dari api heheheh,..
Awalnya sempat stress dengan kondisi ini, tapi dengan belajar konsisten menerapkan komunikasi produktif dengan anak, sedikit demi sedikit mulai belajar menerima kenyataan.
Kenyataan itu tidak selalu indah sesuai harapan.
Tapi seiring berjalannya waktu mulai menyadari inilah seni dalam pengasuhan.
Belajarlah ikhlas menerima, tak perlu kaget jika ekspektasi jauh dari kenyataan.
Dan bisikkanlah  bahwa aku adalah ibu bahagia yang perlu banyak memperbaharui rasa syukur. Diluar sana ada banyak pasangan yang menantikan hadirnya tangisan dan rengekan anak kecil dirumahnya. Bersyukurlah karena saat ini menjadi orang yang dipilih oleh Allah untuk mengemban amanah mulia membesarkan anak anak peradaban, yang akan selalu kita nantikan doa doanya saat kita telah tiada.
Bersyukurlah dan jadilah ibu yang bahagia.

#hari4
#GamesLevel1
#Tantangan10hari
#KuliahbunsayIip
#KomunikasiProduktif

Senin, 06 November 2017

Komunikasi Produktif #3

Jakarta, 7 November 2017

Malam menjelang tidur kutatap satu persatu wajah anak anak. Seperti biasa rasa bersalah datang mendera yang seharian ngomel lah yang masaknya ga enak  dan lain dan lain lain. Sederet dosa terhadap anak jadi terbayang dipelupuk mata. Astaghfirullah.
Tetapi masih saja selalu lost control ketika menghadapi polah tingkah anak anak, kesalahan yang sering dilakukan adalah manajemen dalam berkomunikasi dengan anak.
Beruntung ikut kelas bunsay IIP paling nggak ada yang ngingetinlah. Dan senin kemarin mendapatkan suntikan motivasi dari mba lanny di grup wa IIP bunsay#3,
🌿 Communication is a skill that you can learn. It’s like riding a bicycle or typing. If you’re willing to work at it, you can rapidly improve the quality of every part of your life.
Komunikasi adalah sebuah keterampilan yang dapat kau pelajari. Belajar komunikasi itu seperti mengendarai sepeda atau mengetik. Jika kau mau mengerjakannya, kau akan dapat mengubah kualitas dari semua bagian hidupmu 🌿
by Brian Tracy –
konsultan manajemen dan pembicara

Dan tantangan di hari yang ketiga adalah ketika menghadapi ghizan yang lagi hobby banget main berantem beranteman. Yang sering jadi sasaran keisengan adalah kakaknya. Haduh sampai pusing saya sering mendengar kakaknya menjerit. Dari pada saya ikutan emosi dan berteriak saya memilih untuk menjauh dari anak anak dan saya menemukan ide untuk menggunakan “power tendangan/target double” sebagai alat untuk bermain.
Tara....
Dan ghizan senang sekali ketika saya tawarkan untuk menendang dan memukul target dengan benar.
Berakhirlah drama perkelahian antara kakak dan adik.
Disini saya juga belajar untuk menerapkan prinsip prinsip komunikasi dengan anak, yakni harus jelas dalam memberikan pujian ataupun kritikan.
“ anak hebat, tendangannya tepat”
“ anak sholih, tidak berkelahi dengan kakak”

#hari3
#GamesLevel1
#Tantangan10hari
#KuliahbunsayIip

#KomunikasiProduktif

Komunikasi Produktif #2



Memasuki tantangan hari kedua, kali ini saya belajar untuk berkomunikasi secara efektif dan produktif kepada anak saya ghizan 5th 2bulan.
Butuh perjuangan untuk menyulap kondisi pagi hari senin yang super hectic menjadi pagi hari yang menyenangkan untuk memulai beraktifitas pekan ini. Sejak semalam saat “pillow talk” sudah berusaha untuk diberikan energi positif tentang esok senin yang menggembirakan agar efek libur weekend tidak keterusan dan pengin lanjut libur.
Pagi ini setelah bangun tidur alissa dan ghizan tidak segera beranjak dari kasur untuk mandi (baca bermalas malasan), sudah mulai “gemes” tapi saya tahan dengan cara menarik napas panjang dan berusaha senyum setulus mungkin meskipun itu susah. Menahan diri untuk tidak “ngomel” dipagi hari adalah cara pertama untuk saya menciptakan komunikasi yang produktif terhadap mereka. Kemudian saya menyiapkan perlengkapan yang harus mereka bawa, dan ternyata mereka belum juga beranjak dari tempat tidur padahal jam sudah menunjukkan pukul 05.30.
Masya Allah, mamak sudah mulai “gerah”
Sampai akhirnya kakak berhasil mandi dan giliran adik (ghizan).
Setelah kakak beres dengan baju dan bersiap untuk berangkat sekolah, tiba tiba saja ghizan yang sudah berpakaian seragam sekolah, menangis merengek minta libur.
Setelah diajak dialog dan tidak berhasil akhirnya mamak mengalah, ghizan ikut mengantar kakak sekolah dan tetap keukeuh tidak mau berangkat ke sekolah. Tarik nafas panjang dan masih tetap berprasangka baik bahwa pasti ghizan mau berangkat ke sekolah pagi ini.
Selesai mengantar kakak sekolah, dalam perjalanan ghizan berubah pikiran
“ummi aku mau berangkat sekolah” ungkapnya.
Oke baiklah, jawabku
Segera kupacu motor dan bergegas menuju kerumah untuk mengganti pakaian ghizan
Sampai akhirnya ghizan mau berangkat sekolah dengan kesadaran dan kemauan sendiri. Berangkat ke sekolah (TK) dengan riang dan gembira, meskipun akhirnya terlambat sampai di sekolah.
Dalam perjalanan menuju ke sekolah aku mengajaknya mengobrol sembari memberikan nasihat, semoga pagi hari yang sibuk ini, ghizan mulai memahami bahwa “rewel” dipagi hari tidaklah perlu.

“ Mamak yang sedang belajar menahan emosi “

#hari2
#GamesLevel1
#Tantangan10hari

#KuliahbunsayIip

Minggu, 05 November 2017

Komunikasi Produktif

Jakarta, 5 November 2017
Berproses menjadi lebih baik bersama institut ibu profesional adalah kesempatan dan anugerah sekaligus tantangan tersendiri buat saya, terutama karena saya adalah ibu amatiran yang masih banyak kekurangan baik secara ilmu maupun pengalaman.
Mencoba menguatkan pijakan agar menjadi sebenar benar ibu bagi kedua anak saya dan menjadi sebaik baik istri bagi suami. Terkadang berlari marathon terengah-engah mengikuti setiap sessi sharing ilmu yang diadakan saat matrikulasi, bahkan sering sekali tertinggal dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
Ala kulli hal saya bersyukur banyak ilmu yang saya dapatkan, tentang pengenalan terhadap diri sendiri, mencoba menyelami setiap makna dan hikmah atas kehidupan yang telah dijalani, mencoba menemukan “insight” dan pesan khusus kenapa Allah mentakdirkan saya ada didunia ini. (ini materi matrikulasi yang paling berkesan ) Mengikuti setiap sharring meskipun sering tertinggal dan akhirnya scroool sampai ribuan chatt, kata perkata mencoba untuk saya pahami, terkadang tengah malam baru sempat membaca dan baru “ngeh” obrolan dan materi yang disampaikan dan saya berazam saya tak boleh tertinggal. Mengikuti kelas bunda sayang adalah bagian dari cara saya mencintai keluarga, menyayangi suami saya satu satunya nun jauh disana yang tak bisa setiap saat saya sentuh, dan saya minta pelukannya. Yang tak mungkin bagi saya menuntut perhatiannya lebih atas setiap detail tantangan yang saya hadapi dalam membersamai anak anak. Tapi saya sangat yakin cintanya tak akan pernah berkurang untuk saya dan keluarga.
Materi kelas bunda sayang sesi #1 merupakan materi yang sangat saya butuhkan, tidak cukup bagi saya untuk membaca sekilas materi yang disampaikan, berulang ulang saya baca dan mencoba untuk saya cerna (dikunyah-kunyah) bahasa kulwap nya, masih belum faham juga akhirnya saya print out. Dan mendadak jadi bingung dengan tantangan yang diberikan terkait materi komunikasi produktif . Dan baru sekarang bisa mengerjakan tantangannya #hari1.
Hal yang paling menantang bagi saya adalah bagaimana memulai berkomunikasi dengan diri sendiri.
Karena menyadari bahwa komunikasi yang baik terhadap diri sendiri adalah gerbang awal untuk sukses berkomunikasi dengan orang lain.
Komunikasi terhadap diri sendiri sangat terkait bagaimana cara pandang kita menilai diri kita sendiri. What you think is what you get
Berusaha untuk berprasangka baik pada diri sendiri menjadi pilihan mendasar untuk selanjutnya bisa berkomunikasi produktif pada diri sendiri. Terus menerus memasukkan input positif dengan pemilihan kata positif yang digunakan sehari hari. Alhamdulillah dapat memberikan energi yang akan menguatkan diri untuk menjalani hari dengan baik.
Be a positif thinking, semoga bisa menjalani tantangan dihari selanjutnya..
Knowing is not enough we must apply. Willing is not enough we must do.
Mengetahui saja tidak cukup, kita harus menerapkan. Bersedia saja tidak cukup, kita harus melakukan-nya.

 #hari1
#GamesLevel1
 #Tantangan10hari
#KuliahbunsayIip
#KomunikasiProduktif
 

Selasa, 08 Maret 2011

Aku dan Ibuku

Part 1
Seperti biasanya, setiap pagi aku dan Ibu bergegas menuntaskan pekerjaan masing-masing. Setelah kami jemput awal hari ini dengan 2 rakaat shubuh di masjid dekat rumah, tak lupa sisipan do’a qunut yang tak pernah tertinggal. Dzikir panjang sang Imam membuat Ibu larut dalam khusyuk munajatnya, Ku lirik Ibu masih komat-kamit dengan bijian tasbih yang tergenggam ditangannya.

Lama ku perhatikan Ibu karena Ma’tsuratpun telah usai ku baca. Gurat-gurat ketuaan makin terlihat, pipinya tak lagi semontok ketika muda dulu, meskipun aku juga tak pernah melihat beliau ketika muda. Sempat melihat melalui photo yang bapak simpan, photo ketika masih gadis katanya. Berkepang dua, dengan lesung pipit yang nyaris tak terlihat, karena tertutup gembil pipinya.
Lekat-lekat ku tatap. “dipenghujung usianya masih semangat saja” kataku..

Seperti biasanya, jum’at pagi giliran Ibu mengisi pengajian di mushala ujung desa. Sudah berapa lama beliau lakukan itu akupun tak tahu. Melebihi usiaku yang kini tengah seperempat abad, mungkin.. dengar-dengar cerita darinya, setelah usiaku genap 40 hari aku sering digendong kemana-mana (upz.. bukan lagunya mbah Surip) dari satu majelis ke majelis yang lain, jika ada anggota majelis terkecil saat itu, mungkin itulah aku yang masih dalam bedongan kain. Memoriku tak mampu menangkap moment itu hanya mendengar cerita dari teman-teman Ibu.

Yang sempat ku ingat adalah pengajian malam jum’at di mushola yang sama, meskipun derasnya hujan, Ibu selalu memaksakan diri untuk berangkat ke majelis itu, tak lupa setelah meredakan rengekanku yang terus meraung karena ku tak mau ditinggal dirumah, namun juga tak mau diajak karena kondisinya hujan dan gelap, dan itu membuatku takut.

Akhirnya, mengalahlah aku dengan rayuan Ibu “ Nak, tak inginkah kau di sayang Allah??” tanyanya padaku, aku hanya terdiam membisu, tak mampu terjemahkan kata-kata Ibu. Dan aku berpikir jika aku tetap di rumah bersama kakak-kakakku itu bukanlah sebuah pilihan, karena pasti aku hanya akan digoda dan dibuat menangis sesenggukan hingga ibu pulang.

Selepas tunaikan rakaat Isya bersama Bapak. Aku digendongnya menuju mushola dengan payung yang tertenteng di tangannya. Kondisi jalan desa yang becek dan gelap, karena waktu itu belum diaspal dan lampu penerang jalan belum ada, tidak membuat Ibu lemah semangat dan mengurungkan niatnya.
Itulah yang sempat terkenang, sehingga benar kata Alqur’an terkadang anak, keluarga dan dunia menjadi godaan untuk tetap istiqomah berjuang di jalannya, coba saja jika Ibuku waktu itu tak bersabar. Mungkin sering izin “ maaf Ibu-ibu, saya tidak ngisi ta’lim dulu karena sikecil umu merengek nangis terus jadi saya tidak bisa berangkat ke pengajian”.
“Astaghfirullah, maaf kan aku Bu, pernah menjadi salah satu bagian dari ujian keistiqomahanmu” desahku.

Umu Sulaim
22 September 2009

Rabu, 26 Agustus 2009

Menata Spirit Ramadhan

Menata Spirit Ramadhan


Nuansa Religius sangat kental terasa ketika bulan Ramadhan tiba masjid dan mushola dipenuhi dengan para jamaah. Kajian-kajian keislaman bertebaran dimana-mana. Suara lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an terdengar membahana. Sekejap tiba-tiba nuansa rabbaniyah hadir memenuhi ruang hati kita, menggerakkan setiap sendi untuk berdzikir mengagungkan asmaNya. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari kebarakahan bulan Ramadhan yang menawarkan keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan sebelas bulan yang lainnya.

Akan tetapi kitapun tak dapat memberikan jaminan apakah suasana ini akan terus bertahan sampai dipenghujung Ramadhan bahkan sampai sebelas bulan berikutnya? Ataukah hanya sebuah romantisme di awal-awal Ramadhan saja. Seperti kenyataan tahun-tahun sebelumnya, di awal Ramadhan masjid dan mushola ramai dengan aktivitas ibadah akan tetapi berlahan-lahan keramaian itu akan berpindah ke pasar, mall, dan tempat perbelanjaan lainnya dengan alasan mempersiapkan untuk menyambut hari Raya Idul Fitri. Seakan menjadi kebiasaan rutin yang entah mengambil dalil dari mana.

Sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah dan generasi sahabat (semoga Allah merahmatinya). Dalam sebuah Hadits disebutkan “ Aisyah r.a. berkata, “ Nabi apabila telah masuk sepuluh malam (yang akhir dari bulan Ramadhan) beliau mengikat sarung beliau, menghidupkan malam, dan membangunkan istri beliau." (HR. Bukhari) artinya Rasulullah semakin meningkatkan intensitas dan kuantitas dalam beribadahnya di akhir-akhir bulan Ramadhan.

Ramadhan dihadirkan oleh Allah SWT khusus untuk kaum Muslimin agar dapat digunakan sebagai madrasah untuk mendidik kemauan dan kesungguhan melawan hawa nafsu, membiasakan berlaku sabar, menahan kesenangan dan membiasakan hidup disiplin. Melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan selama bulan Ramadhan baik melalui puasa, shalat sunnah, tarawih, tilawah Qur’an dan ibadah yang lainnya jiwa kita sedang dididik untuk lebih dekat dengan Tuhannya. Dibina untuk lebih bersyukur atas seluruh karunia yang diberikan dan diajari untuk lebih bersabar atas apapun yang menimpa.

Didalam keseharian dan aktivitas kehidupan, manusia dituntut berlaku sabar. Baik sabar dalam menjalani ketaatan maupun sabar dalam menjauhi maksiat. Hal ini dapat di latih melalui aktivitas puasa sebagaimana Rasulullah SAW bersabda “Puasa adalah perisai yang menyelamatkan dari neraka sebagaimana perisai seseorang di antara kamu di dalam peperangan”. Tentunya puasa yang bukan hanya sekedar menahan dari makan dan minum saja. Tubuh kita puasa, hati kita puasa, lidah kita puasa, telinga kita puasa, mata kita juga butuh untuk berpuasa.

Hati seorang mukmin haruslah senantiasa dididik untuk terbiasa puasa, puasa dari rasa takabur dan sombong serta penyakit hati yang lainnya.Lidah kita perlu berpuasa, puasa dari segala perkataan kotor, mencela, dusta, menghina dan lain sebagainya. Agar kita terhindar dari ancaman Allah seperti yang dituturkan Muadz bin Jabal kepada Rasulullah. Muadz bertanya, “ apakah kami akan disiksa akibat apa yang kami katakan, ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “ Ibumu menderita karena melahirkanmu, wahai Muadz. Manusia menelungkupkan muka ke neraka adalah karena lidah mereka”. Begitu juga halnya telinga dan mata kita perlu untuk diajak berpuasa agar terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Allah SWT berfirman “ … Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya. “ (Al Isra:36)

Melalui momentum Ramadhan inilah kita diberikan kesempatan oleh Allah untuk berproses dan bermetamorfosis agar diri kita menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa taat dan bertaqwa kepada Allah. Sehingga kehadiran bulan Ramadhan bukan sekedar rutinitas tetapi lebih kita maknai sebagai syahruttarbiyah, bulan pembinaan dan penempaan agar diri kita menjadi insan yang lebih mulia. Diawal ataupun di akhir Ramadhan, spirit kita akan senantiasa terus terjaga karena Ramadhan menawarkan segudang kemuliaan bagi siapa saja yang memahami dan menyadarinya.

Wa’Allahu A’lam
Umu Sulaimah S.PdI
Guru SDIT Ulul Albab dan
Direktur LSM Pendampingan Pelajar AL Kindi Club
Kota Pekalongan (085641735644)

Memasuki Pintu Pertaubatan

Mutiara Hikmah Ramadhan

Memasuki Pintu Pertaubatan

Kembali kita dipertemukan dengan bulan yang penuh dengan kemuliaan, penuh dengan kebarakahan. Segala sesuatunya bernilai ibadah dengan pahala yang berlipat ganda. Ibadah sunnah dinilai wajib dan ibadah wajib dilipat gandakan mencapai tujuh puluh kali. Ramadhan menjanjikan keistimewaan yang luarbiasa bagi kaum Muslimin. Rasulullah pernah bersabda “ Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. (HR. Bukhari).

Adakah orang yang tak memiliki dosa sepanjang hidupnya? Tentu saja jawabnya tidak ada , oleh karenanya Allah sediakan satu bulan istimewa diantara sebelas bulan yang lainnya. Yang khusus diberikan kepada kaum muslimin, agar memaksimalkan kehadiran Ramadhan sebagai bulan taubat dari seluruh dosa-dosa yang telah dilakukan. Sehingga ketika keluar dari bulan Ramadhan kita akan kembali menjadi insan yang fitri. Dengan syarat taubat yang dilakukan adalah taubat yang sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan maksiat lagi.

Sebagaimana kita melihat dan menyaksikan nuansa rabbani sangat kental terasa ketika Ramadhan datang menyapa. Kaum muslimin datang berduyun-duyun untuk meramaikan masjid dan mushola, memperbanyak kajian, tadarus Alqur’an dan lain sebagainya. Lantunan ayat suci Alqur’an terdengar membahana di mana-mana. Tak kalah menariknya tayangan televisi pun mengikutinya, banyak sinetron-sinetron ataupun acara lain yang di kemas khusus berbau religius. Suasana kondusif tersebut tentu saja tidak terlepas dari kebarakahan bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda Dari Abu Hurairah ra.
Rasulullah saw. Bersabda “Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu.”(HR. Bukhari-Muslim)

Inilah memontum yang terbaik bagi kaum muslimin untuk segera berbenah dan melakukan perbaikan diri. Merenungi atas segala kesalahan yang pernah dilakukan kemudian bertaubat dan berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi. Ini pulalah kesempatan yang paling tepat untuk memperbaiki kualitas diri dengan meningkatkan intensitas serta kualitas ibadah. Memperbaiki amalan wajib, memperbanyak amalan sunnah, membiasakan tilawah alqur’an, infak dan sedekah serta menebar kebaikan kapan saja dan dimana saja.

Kehadiran bulan Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk mendidik jiwa agar terlatih untuk selalu dekat dengan Sang Maha Pencipta serta selalu menghambakan diri secara total hanya kepadaNya. Hal inilah yang akan membentengi kita dari segala perbuatan maksiat dan perbuatan tercela, sehingga taubat kita benar-benar bernilai taubatan nasuha.

WaAllahu A’lam

Umu Sulaimah S.PdI
Guru SDIT Ulul Albab dan
Direktur LSM Pendampingan Pelajar AL Kindi Club
Kota Pekalongan (085641735644)

Jadikan Ramadhan Lebih Bermakna

Mutiara Hikmah Ramadhan

" Jadikan Ramadhan Lebih Bermakna "

Bulan Ramadhan kembali datang menyapa dengan sepenuh kemuliaannya. Selama nafas masih dikandung badan maka dengan rutinnya Ramadhan akan hadir menjumpai kita. Menawarkan keistimewaannya yang tiada tara. Mungkin sudah tak terhitung berapa kali kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dan merasai nikmatnya beribadah di Bulan itu. Namun, substansinya bukan berapa kali kita telah mendapati bulan Ramadhan atau berjumpa dengan Ramadhan, tetapi seberapa maksimalkah kita memanfaatkan momentum Ramadhan untuk melakukan proses perbaikan diri.

Jika kita menilik kembali sejarah hidup Rasulullah, para Sahabat dan para Salafussholeh (semoga Allah merahmatinya), betapa mereka mempersiapkan dan menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita dan melakukan persiapan jauh-jauh hari sebelum datangnya Ramadhan. Di penghujung bulan Sya'ban Rasulullah pernah bersabda " Barang siapa yang bergembira memasuki bulan Ramadhan, maka sungguh jasadnya diharamkan masuk kedalam api neraka". Tentunya kata "gembira" di sini tak sekedar dimaknai gembira secara emosional dan meluapkannya dengan membunyikan petasan atau sekedar membersihkan rumah atau tempat ibadah saja. Namun, gembira disini lebih dimaknai ke arah persiapan yang optimal untuk menghadapi bulan Ramadhan yang mulia dengan mengisi dengan aktifitas-aktifitas ibadah. sehingga sangat pantas orang-orang yang seperti inilah yang akan terhindar dari api neraka.

Tak heran jika Rasulullah dan para sahabatnya melakukan persiapan yang optimal dalam menyambut hadirnya bulan Ramadhan. Karena mereka memahami keutamaan dan fadhilah yang terkandung dalam bulan ini, bahkan dalam sebuah hadits juga disebutkan " Jika seandainya umatku tahu akan keutamaan bulan Ramadhan maka niscaya mereka akan memohon kepada Allah agar setiap bulan adalah bulan Ramadhan". simak kembali bagaimana dengan bait-bait do'a yang dilantunkan Rasulullah SAW " Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan" bentuk luapan kegembiraan dan pengharapan yang mereka lakukan adalah dengan menata diri secara maksimal dalam menghadapi Ramadhan dan mengisinya dengan aktivitas yang menambah kadar kualitas dan kuantitas Ibadahnya, sehingga kehadiran Ramadhan benar-benar membawa makna perubahan.

Salah satu persiapan yang dilakukan adalah mempersiapkan kondisi ruhiyan dan keimanan dengan sebaik-baiknya. Karena pada bulan Ramadhan intensitas peribadatan meningkat dibandingkan pada bulan-bulan sebelumnya. Tanpa bekal ruhiyah dan keimanan yang mapan, tentunya akan kedodoran saat Ramadhan datang menjelang. Yang hampir setiap detik dan setiap waktunya memaksa kita untuk mengisi dengan aktivitas yang bernilai ibadah, agar dapat memanfaatkan momentum Ramadhan untuk melakukan incharge diri sehingga akan mendapatkan barakahnya. Tanpa persiapan sejak awal pastilah akan megap-megap.

Kita akan melihat hasil yang sangat berbeda antara orang yang terbiasa melakukan aktivitas ibadah dengan orang yang tiba-tiba rajin beribadah saat Ramadhan datang menjelang. Berpuasa misalnya, orang yang sudah terbiasa melakukan aktivitas tersebut di luar bulan Ramadhan tentunya akan lebih siap dalam menahan diri dari sekeder lapar dan haus namun mampu mengekang hawa nafsunya. Begitu juga dengan aktivitas membaca Alqur’an dan qiyamullail, orang yang sudah terbiasa melakukan di luar bulan Ramadhan tentunya tidak akan terkaget-kaget. Dan ketika Ramadhan datang mereka telah siap untuk melakukan peningkatan kualitas dan kuantitasnya saja. Jelaslah tentu akan berbeda hasilnya antara orang yang melakukan persiapan dan orang yang sama sekali tanpa memiliki bekal persiapan apapun.

Hal lain yang layak di persiapkan adalah mempersiapkan ilmu pengetahuan dan kefahaman yang berkaitan dengan fiqh puasa, sehingga akan lebih memaknai bahwa hadirnya Ramadhan tak sekedar sebuah rutinitas puasa menahan rasa lapar dan rasa haus saja. Namun, mampu memetik hikmah atas kemuliaan bulan Ramadhan. Bisa jadi, banyak dari kita telah mempersiapkan hadirnya Ramadhan dengan ruhiyah, keimanan serta kesiapan fisik akan tetapi melalaikan tentang fiqh puasa itu sendiri. Tentunya kita menyadari bahwa orang-orang yang beramal dengan mengetahui ilmunya, amalnya akan bernilai lebih di sisi Allah dan juga di mata manusia dibandingkan mereka yang beramal tanpa mengetahui ilmunya.

Mumpung masih ada kesempatan bertemu dengan Bulan Ramadhan marilah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Agar Ramadhan benar-benar membawa kita menjadi pribadi-pribadi yang memiliki derajat taqwa di sisi Allah SWT. Kehilangan sedikit saja waktu di bulan Ramadhan tanpa aktivitas ibadah itu artinya akan kehilangan kesempatan untuk meraih kemuliaan. Rasulullah bersabada “ Bulan Ramadhan telah menaungimu, bulan yang penuh mulia ini telah datang di tengah-tengah kamu, di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barang siapa yang tidak mendapatinya, maka ia telah kehilangan kebaikan seluruhnya, dan tidak ada yang tidak mendapatkannya kecuali orang-orang yang merugi.” (HR. Ibnu Majjah).

Akhirnya tak ada alasan untuk tidak memanfaatkan momentum Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Karena Allah telah menyediakan kemuliaan dan keistimewaan bersamanya.

Wa’Allahu A’lam
Umu Sulaimah S.PdI
Direktur LSM Pendampingan Pelajar AL Kindi Club
Kota Pekalongan (085641735644)

Kamis, 18 Juni 2009

Pendidikan Berbasis Moral Qur'ani

Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan hal asasi yang dibutuhkan oleh setiap manusia dari ras atau strata sosial manapun ia berasal. Pendidikan menjadi hal mutlak dan qath’i bagi sebuah bangunan peradaban di zaman apapun manusia hidup dan di imperium manapun manusia tinggal.
Kualitas perkembangan dan kemajuan suatu negeri salah satunya ditentukan oleh faktor pendidikan dan sistem yang digunakan. Dapat kita lihat bagaimana tingkat pendidikan di negara maju akan berbeda dengan negera berkembang dan hal ini seharusnya mampu mengetuk hati dan pikiran kita. Lalu, bagaimanakah caranya meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini?
Bukan masanya untuk terjebak pada nuansa pragmatis dan tujuan sempit bahwa pendidikan adalah usaha sadar seorang pendidik untuk sekadar menyampaikan ilmu dan sekadar menunaikan tugas yang dibebankan kepadanya. Frame tersebut selayaknya perlu diubah dari benak dan kepala manusia. Terlebih yang sudah menyadari bahwa pendidikan tidak hanya transfer of knowledge, tapi lebih pada aspek dan proses perubahan (inqilab) dan pembentukan (takwin). Perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari sekadar tahu menjadi lebih tahu. Dan yang utama perubahan mental dan sikap yang jahili menjadi orang yang bermoral dan berpengatahuan. Dalam proses pembentukan pribadi yang kokoh dari segi ruhani maupun jasmani, maka dibutuhkan sebuah sistem pendidikan yang integral.
Pendidikan tidak sekadar mengarahkan dan menularkan ilmu serta pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik, tanpa memikirkan apakah proses pendidikan tersebut mampu menginternalisasi nilai-nilai kebaikan dan peserta didik mampu mengimplimentasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah dibutuhkan sebuah sistem yang tidak terjebak pada orientasi nilai yang bagus atau tersampaikannya seluruh materi pembelajaran, tetapi lebih pada aspek perubahan sikap, tingkah laku, dan pemahaman peserta didik setelah mendapatkan materi tersebut. Sekolah tidak berorientasi pada hasil, tetapi lebih pada proses. Proses untuk senantiasa memperbaiki dirinya dan orang lain.
Jika ditengok kembali sejarah pendidikan di zaman Rasulullah SAW, kita bisa melihat Rasulullah SAW mampu melakukan proses transmisi ilmu pengetahuan dengan mendidik dan membina para sahabat-sahabatnya. Dari pendidikan dan pembinaan Rasulullah SAW, para sahabat mampu menjadi pribadi-pribadi muslim yang integral, artinya muslim yang memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang makna dan hakikat dari makna Islam. Pendidikan merupakan proses transformasi yang merubah peradaban jahiliyah menjadi peradaban rabbani. Pendidikan menempatkan dan memposisikan manusia sesuai dengan fitrahnya, yakni fitrah kesucian untuk memeluk agama yang hanif. Hal inilah yang selayaknya menjadi tujuan pendidikan. Pendidikan merupakan proses penyiapan manusia yang shalih dan tercipta keseimbangan dalam karakter, minat, bakat, sikap, dan tingkah laku. Selain itu, mampu menciptakan keseimbangan dalam potensi, artinya kemunculan suatu potensi tidak menyebabkan lenyapnya potensi yang lain.
Jika dikaitkan dengan realitas sekarang dimana dekadensi moral dan kerusakan tauhid menghiasi wajah negeri ini, terutama wajah umat Islam yang kian hari semakin memburam, maka peran pendidikan perlu ditingkatkan kualitasnya, baik dari sistem, kurikulum maupun kompetensi para pendidiknya. Hal itu menjadi tantangan terberat untuk kita jawab.
Menengok kembali sistem pendidikan di zaman Rasulullah SAW, mengajak kita menemukan sebuah pola pendidikan berbasis qur’ani. Menjiwai nilai-nilai Al-Qur’an dalam aspek kehidupan. Dengan pola pendidikan berbasis qur’ani inilah diharapkan mampu memunculkan dan mencetak pelaku pendidikan (baik pendidik maupun peserta didik) yang memiliki kepribadian yang shahih dan shalih, baik tingkah laku maupun pemikirannya.
Namun, ide-ide tentang pendidikan berbasis qur’ani ini tak banyak dipahami atau diminati oleh lembaga pendidikan Islam karena memang masih menjadi wacana. Dan sebagian besar masih disibukkan oleh perangkat-perangkat apa yang digunakan untuk mewujudkan hal tersebut.
Akan tetapi, hal ini tidak menjadi permasalahan selama pendidik mulai tersadarkan bahwasanya ada amanah dan tanggung jawab besar yang ada di pundaknya untuk membawa ke arah manakah sistem dan pola pendidikan Islam nantinya. Dengan demikian, pendidik mampu menjalankan profesinya dengan amanah dan penuh tanggung jawab meskipun tak jarang masih disibukkan oleh masalah gaji ataupun tunjangan yang memang tidak memenuhi standard sehingga banyak kita temui guru-guru di beberapa kota unjuk rasa untuk menuntut haknya. Di sinilah dibutuhkan sinergisitas antara pemerintah dan masyarakat. Kita membutuhkan orang-orang yang duduk di pemerintahan sebagai representasi dan wakil dari rakyat adalah orang-orang yang arif dan bijaksana serta mampu berbuat adil. Meskipun tidak tahu entah sampai kapan akan terwujud. Sebuah imperium pemerintahan yang berkeadilan bersama masyarakat berjuang untuk mewujudkan masyarakat madani.
Dari sinilah semua terlihat bahwa pendidikan menjadi hal sentral dan pokok dimana kemajuan suatu negeri salah satunya ditentukan oleh pendidikan. Mampukah pendidikan kita mencetak pionir-pionir perubah, tak hanya mencetak peserta didik yang memiliki sederet prestasi akademik bagus, namun kosong dalam tataran implementasi akhlaknya? Menjadikan pendidikan tidak hanya berhenti pada sebuah wacana intelektual saja, namun bagaimana menjiwai khasanah intelektual kita dengan basis Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Wallahu a’lam.
Umu Sulaim
Guru SDIT Ulul Albab Kota Pekalongan

Selasa, 05 Mei 2009

" Menggenggam dunia dengan Buku "

Resensi Buku



Judul : " Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah

Referensi Pengelolaan Perpustakaan Sekolah "

Penulis : Suherman, M.Si.

Editor : Inayati Ashriyah

Penerbit : MQS Publishing

Cetakan : I, Februari 2009

Tebal : xiv + 222 hlm.



" Menggenggam Dunia Dengan Buku "

Umu Sulaimah S.Pd.I

Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan memiliki peran yang sangat signifikan terhadap kemajuan sebuah negera. Karena pendidikan merupakan akar dari peradaban sebuah negara. Pendidikan menjadi kebutuhan pokok bagi setiap generasi agar bisa menjawab tantangan-tantangan di masa mendatang. Peningkatan kualitas SDM di suatu negara dapat dicapai dengan meningkatan mutu kualitas pendidikannya. Peningkatan kualitas pendidikan menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat mulai dari pemerintah, pemerhati pendidikan dan masyarakat pada umumnya. Dengan hal ini akan tercipta korelasi yang positiv antara pemerintah dan masyarakat.

Upaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan bagi masyarakat salah satunya adalah dengan menghadirkan perpustakaan. Perpustakaan hadir sebagai salah satu penunjang keberhasilan proses belajar mengajar, baik formal maupun non formal. Perpustakaan hadir sebagai ruang belajar dan penyedia informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Perpustakaan merupakan fasilitas atau tempat yang menyediakan sarana bahan bacaan. Secara garis besar fungsi perpustakaan adalah sebagai tempat penyimpanan, sebagai pusat informasi, sebagai tempat rekreasi dan tentunya menjadi media edukasi. Namun dalam perjalanannya perpustakaan yang kita harapkan menjadi tempat penyedia informasi dan beberapa fungsi diatas, sering mengalami disfungsi. Yang terlihat adalah, perpustakaan hanyalah berisi deretan buku berdebu yang tak tertata. Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang sisa dipojok-pojok sekolah, jangankan memperhatikan masalah kenyamanan, masalah kesehatan dan kebersihannya pun terkadang tidak diperhatikan. Sehingga jangankan untuk singgah dan berlama-lama disana, mampir dan melirik saja enggan. Akhirnya perpustakaan dipandang sebagai tempat yang kurang bermanfaat. Keterbatasan bahan pustaka serta minimnya pengetahuan para pustakawan terhadap pengelolaan serta manajemen perpustakaan, juga merupakan salah satu faktor yang menjadikan perpustakaan terutama di sekolah mengalami disfungsi.

Buku yang ditulis oleh Suherman M.Si mencoba memberikan gambaran ideal tentang sebuah perpustakaan. Berdasarkan pengalaman dan beberapa literatur yang dibaca oleh penulis menjadikan buku ini memiliki cita rasa yang khas. Penulis yang memperolah gelar magister dalam ilmu Komunikasi ini juga merupakan aktifis Masyarakat Literasi Indonesia, seorang peneliti, pustakawan ahli di LIPI dan pembina Forum Sekolah Gratis kabupaten Bandung. Memulai penulisan buku dengan menghadirkan bab pertama yang berisi tentang minat baca. Perpustakaan memiliki peranan yang signifikan untuk mendukung gemar membaca dan meningkatkan literasi informasi, juga mengembangkan siswa supaya dapat belajar secara independen. Menurut kajian dari penulis, bahwa salah satu jalan yang sangat efektif untuk melakukan proses perubahan sosial adalah dengan menemukan cara untuk mengajak siswa membaca.

Membaca buku ini, mengajak kita untuk kembali merenungkan bahwa, negara kita menempati posisi bontot ( rendah ) dalam hal kultur baca tulis bagi para pelajar. Sehingga memberikan evaluasi bahwa minat baca masyarakat perlu untuk terus digalakkan. Pendidikan yang dilakukan jangan sampai hanya terbatas pada pelajaran teoritis saja. Perlu adanya komitmen dan perhatian yang khusus guna meningkatkan minat baca, baik secara struktural maupun kultural. Sejatinya untuk mengatasi masalah minat baca dan lebih lanjut ke masalah literasi informasi dapat digunakan tiga macam strategi yaitu startegi kekuasaan, startegi persuasif dan strategi normatif-reedukatif.

Salah satu media edukasi yang perlu diperhatikan adalah perpustakaan karena perpustakaan merupakan pusat pendidikan dan peningkatan mutu kualitas diri. Dan juga sebagai penggerak untuk pembelajaran yang lebih efektif dan dinamis. Dalam dunia pendidikan perpustakaan menjadi " jantung " bagi sekolah. Yang memiliki peran signifikan.

Tidak kalah menariknya, Buku ini diulas dengan gaya bahasa yang praktis dan mudah difahami serta dilengkapi juga dengan informasi tentang gambaran-gambaran organisasi perpustakaan sekolah dan bagaimana cara mengelolanya. Sehingga memberikan informasi yang jelas, mengenai bentuk perpustakaan yang ideal dan contoh-contoh kegiatan yang dapat diselenggarakan oleh pengelola perpustakaan, guna meningkatkan fungsi dan peranan perpustakaan sebagai lumbung ilmu, pembuka peradaban, menjadi modal untuk menguasai dunia dengan informasi-informasi yang berguna. Sehingga kita menyadari citra perpustakaan sebagai gudang buku dengan penataan asal-asalan harus segera diubah menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Untuk memperbaiki infrastruktur tidak mesti mahal, dengan kreativitas dari pengelola dan kerja sama yang baik antar pihak yang terkait. Sangat memungkinkan menjadikan perpustakaan sebagai penyedia jendela dunia. Yang menjadikan kita semua sanggup memandangi wajah dunia yang penuh pesona.



Pekalongan, 6 Mei

" cukup dunia, dalam genggaman saja "
ga perlu sampai bersemayam dalam hati

Selasa, 21 April 2009

Biarkan Perempuan Berkiprah

Diakui atau tidak, peran perempuan dalam kehidupan ini memberikan arti tersendiri di setiap persada sejarah. Baik yang sudah pasti bagi mereka (peran domestic) maupun peran public. Bukan menjadi hal yang rumit dimasa sekarang ketika mengharap perempuan memainkan beberapa perannya sekaligus. Perempuan kemudian menjelma menjadi wonderwomen. Yang memiliki kapasitas ideal, sehingga dapat mengisi pos-pos penting dalam urusan domestic maupun urusan public.
Banyak anggapan yang memang perlu dikuatkan dengan data akurat melalui penelitian, bahwa pada praktiknya perempuan cenderung lebih gemi, nastiti dan prasaja dalam menjalani aktivitas kesehariannya. Dan hal tersebut merupakan factor utama bagi siapapun untuk menuai keberhasilan dalam menjalankan setiap peran.
Peran domestic perempuan tak bisa dianggap enteng dan ringan, tidak mudah menyelesaikan setiap pekerjaan rumah, misalnya tanpa bekal kesabaran dan keuletan. Hal inilah yang sering kali luput dari pandangan dan penglihatan kita semua. Sehingga menganggap remeh urusan-urusan domestic. Padahal peran ini merupakan peran yang sangat luar biasa, tidak semua orang mampu menjalankannya. Terlebih bagi perempuan, yang menjalankan dualisme perannya sekaligus.
Meskipun dalam beberapa anggapan yang lain bahwa, sering kali perempuan diletakkan dalam posisi konco wingking atau bahkan hanya sebagai objek kapitalisme dalam proses transformasi social ekonomi. Dalam hal ini saya mengajak untuk melihat semua ini dari kacamata yang berbeda. Agar anggapan tersebut tidak menjadi suatu momok yang akhirnya dengan sendirinya kita akan membenarkan anggapan tersebut. Karena bagaimanapun juga perempuan harus berkiprah. Ada banyak peran yang nyata-nyata dapat dikerjakan oleh perempuan. Bukan bermaksud memprovokasi, hanya sekedar mengajak, mari tengok dari sisi pandang yang lain.
Perempuan disetiap sisinya merupakan makhluq yang secara unik tercipta untuk memperindah dan mempercantik kehidupan ini. Dengan kesabaran dan keuletan tak sedikir perempuan mampu menghancurkan dinding egoisme kaum laki-laki. Percaya atau tidak itu realitanya. Banyak para tokoh-tokoh paling bergengsi sekalipun, pasti tak akan pernah lepas dari sosok inspirator seorang ibu, istri atau anak perempuannya.
Namun bukan berarti hal ini tidak menyisakan suatu keraguan bagi seorang perempuan untuk memulai kiprahnya. Ada sebentuk keraguan yang bermula dari ketidak mampuan untuk mengukur kapasitas diri, sehingga meskipun secara fitrah potensi perempuan itu bisa berkembang dengan baik namun rupanya mandul dengan sendirinya. Oleh karena, ketidak sigapan menangkap potensi unggulan yang khas dikaruniakan bagi seorang perempuan. Yang tersisa adalah keraguan. Bagaimana kita bisa mengungkap keadaan ibu rumah tangga (perempuan) yang tidak mengambil peran public, apakah sesungguhnya mereka menikmati kondisi ini ataukah sebetulnya mereka tetap mengeluh atas keadaannya, ataukah melihat lingkungan (baca:keluarga) yang diuntungkan atau malah dirugikan karena keterlibatan perempuan dalam ruang public. Hanya perempuan yang mampu menjawabnya.
Tak selayaknya kebimbangan itu terus merajai, sehingga perempuan tak lagi mampu memperjuangkan eksistensinya. Meskipun sesungguhnya perempuan terkadang tak butuh pengakuan, hanya butuh ruang dan kesempatan untuk melakukan pembuktian. Ruang dan kesempatan perlu diciptakan bukan malah dibatasi. Mengatas namakan pada letak dasar perempuan paripurna, harus tetap berada dalam batasan-batasan ruang domestiksnya sehingga memberikan dinding pembatas yang teramat tinggi dan sulit untuk ditembus. Bukankah kemaslahatan (kebaikan) semaikn dapat dirasakan lingkungannya, manakala seorang perempuan mampu berkiprah tanpa membatasi pada sekat-sekat domestic ataupun public. Semua layak untuk diperjuangkan. Dunia ini tetap menantikan kiprah perempuan, sebagai peletak dasar pembangunan peradaban.
“ seperti semangat Kartini yang tak pernah mati. Meskipun singkat hidupnya, kita dapat bercermin. Hidupnya penuh obsesi dan mimpi, tak sekedar pada batasan sekat emansipasi namun lebih dari itu “

Selamat hari Kartini, bagi Perempuan Indonesia !!
Pekalongan, 21 April 2009

Jumat, 10 April 2009

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Suara Pembaca Duta Masyarakat, Kamis 9 April 2009
Hari ini, Kamis (9/4), adalah momentum perubahan. Masyarakat Indonesia menuju tempat pemungutan suara untuk menentukan wakil-wakilnya yang akan duduk di kursi DPR/DPRD/DPD periode 2009-2014. Dengan segenap kesadaran, pilihan politik yang dilakukan di bilik suara berpengaruh terhadap perjalanan bangsa dan negara. Maka, tak ada pilihan lain kecuali memilih caleg secara cerdas dan tidak asal-asalan.
Dalam hal ini, masyarakat hendaknya tidak mudah dibohongi begitu saja dengan janji-janji para caleg. Masyarakat tentu memahami bahwa setiap kampanye para caleg selalu menjanjikan suatu perbaikan. Tidak mungkin ada caleg malah berkampanye yang tidak prorakyat. Masyarakat perlu menilai rekam jejak caleg selama ini untuk menentukan pilihan secara cerdas. Pengabdian sosial caleg menjadi salah satu kriteria yang menentukan layak tidaknya caleg dipilih. Amat naif ada caleg yang menampakkan kepedulian terhadap masyarakat saat kampanye, tapi selama ini tidak pernah terjun nyata di tengah masyarakat. Jika ada caleg menggunakan jargon-jargon prorakyat saat kampanye, maka itu adalah kewajaran. Pertanyaannya, apakah selama ini caleg tersebut hidup bersama masyarakat?
Tak bisa dilupakan, masyarakat hendaknya tidak terpengaruh dengan politik uang (money politics) yang mungkin dilakukan caleg. Masyarakat berhak memilih tanpa tekanan dan paksaan. Masyarakat hendaknya memilih bukan karena sejumlah uang yang diterima untuk memilih caleg tertentu. Perlu menjadi kesadaran bahwa uang yang diterima hanya kenikmatan sesaat, tapi berefek buruk bertahun-tahun lamanya. Dengan melakukan money politics, caleg ketika terpilih akan menyandera negeri ini dengan perilaku korupsi.

Disadari atau tidak, Pemilu 2009 bisa dikatakan merupakan taruhan bagi masyarakat. Artinya, salah memilih akan berdampak buruk lima tahun ke depan dan begitu juga sebaliknya. Tentu saja masyarakat tidak bisa menggeneralisir seluruh caleg jelek. Di antara banyaknya caleg tentu masih ada yang baik, tulus mengabdi, dan peduli. Masyarakat berhak menilai siapa caleg yang memang benar-benar tepat untuk menjadi wakilnya di gedung dewan. Kini saatnya masyarakat menghadirkan lembaga legislatif yang bersih dan yang benar-benar bekerja bagi kepentingan masyarakat. Ketika nantinya menuju tempat pemungutan suara, masyarakat perlu menguatkan tekad bahwa pilihan politik yang diambil adalah pilihan perubahan untuk membawa Indonesia lebih baik. Pilihan perubahan bahwa Indonesia harus menapak ke depan dalam kemajuan. Masyarakat berkewajiban menjadikan lembaga legislatif lebih bermartabat dengan memilih caleg secara tepat. Ya, saatnya Indonesia memilih untuk perubahan! Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat LPM Transformasi UNY
http://dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=14628

|

Rabu, 08 April 2009

Ikhwan siap luncurkan film tentang As Syahid


Sebuah film layar perak tentang perjalanan hidup Imam Hasan Al Banna siap diluncurkan. Namun kemungkinan besar pemerintah Mesir masih akan melarang film ini sehubungan dengan posisi Ikhwan. Film ini akan menceritakan seluruh perjalanan Imam Syahid.

Sepenuhnya film ini dibiayai oleh anggota Ikhwan Muhsin Ra'di dan menjadi salah satu film berbudget tertinggi di Mesir, mencapai $4 juta. Tidak mengherankan jika film ini diperkirakan akan menjadi film kolosal pula karena melibatkan banyak pihak juga. Rencananya film ini akan diberi judul "Hasan Al-Banna and an Undiminished Journey."

Putra Imam Syahid, Ahmad Seif Al-Islam Hasan Al-Banna, mengatakan bahwa film ini merupakan gambaran jelas tentang perjuangan ayahnya. Skenario akan ditangani oleh Dr. Walib Quthb, namun belum dipastikan siapa sutradara yang akan menangani proyek film ini.

Film ini sebenarnya sudah direncanakan dan dirancang sejak dua tahun yang lalu, namun masih terus mendapat tentangan keras dari pemerintah Mesir. Bahkan para pemerhati dan kritikus belum apa-apa sudah memperkirakan bahwa film ini tidak akan bisa diputar di Mesir. Jika pun beredar, maka dipastikan akan melewati banyak sensor terlebih dahulu. Ra'di mengatakan bahwa jika tidak ada hambatan, maka semua kru yang terlibat dalam film ini dipastikan tidak boleh mengalami pencekalan dari pemerintah.

Legalitas Hasan al-Banna di Mesir begitu kuat, tapi akankah pemerintah Hosni Mubarrak mengizinkan musuh terbesar Mesir dan Mobarrak itu menyuarakan kisahnya? Kita layak menunggunya. (sa/jp)