Sabtu, 11 November 2017

KOMUNIKASI PRODUKTIF #5


Menuangkan resume kegiatan komunikasi produktif selama empat hari dalam satu waktu, oleh karena kegiatan yang padat merayap di sekolah dan kondisi anak anak sakit (cacar air).
bismillah semoga masih dapet “ruh”nya.
Pada tantangan hari kelima, mencoba untuk menerapkan komunikasi produktif dengan abinya anak anak. Jarak yang memisahkan kami tidak jarang menimbulkan miss persepsi dalam komunikasi, yang pertama karena kaidah 7-38-55 seringkali tak terpenuhi.

Sedikit mengutip materi :
“Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai? Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.”

Nah disini, saya tak mampu menangkap bahasa tubuhnya, tak mampu melakukan kontak mata,  karena komunikasi yang mengandalkan pada tehnologi terkadang ada saja hambatannya, sinyal yang jelek, waktu yang tidak tepat dan lain sebagainya.
Suatu waktu aku pengin sekali nelfon, aku tahu bahwa ini jam sibuk ngantor. Tapi kalau yang namanya “rindu” sudah mulai menggoda terkadang lupa pada kaidah “choose the Right Time”. Hasilnya adalah “failed”, untung saja sudah divaksin dari penyakit “baperan”. So, akhirnya aku meminta maaf karena merasa telah mengganggu jam sibuknya, lalu paksu memberikan pilihan waktu jam segini, dan jam segini. Eh ndilalalahnya jam jam tersebut aku sibuk, hasilnya failed lagi. Aku tak boleh menyerah harus  aku coba untuk membangun komunikasi yang produktif dengan pak suami meskipun jarak telah memisahkan, tetapi hati tak boleh terpisah.. eeaaa
Masih ada sajadah panjang yang menanti untuk di gelar, memohon kepada sang Maha Cinta yang mampu menautkan hati.
Mengutip sebuah nasihat dari seorang ustadz :
Ketika berpikir tentang keluarga, saya berpikir tentang sebuah cita-cita, mimpi dan tujuan yang harus diperjuangkan.Itulah sebabnya kenapa saya tak terlalu terobsesi dengan kata "kebahagiaan". Karena bagi saya menikah dan berkeluarga adalah "Berjuang, menderita, lalu syahid di dalamnya sambil berpelukan" Ust. Aad.
Dan tak lupa qoute’s ini aku kirimkan juga kepada pak suami. Dan alhamdulillah kecupan manis mendarat di WA meskipun hanya terwakili oleh emot.

#hari5
#GamesLevel1
#Tantangan10hari
#KuliahbunsayIip

#KomunikasiProduktif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar