Menuangkan resume kegiatan komunikasi produktif selama empat hari dalam
satu waktu, oleh karena kegiatan yang padat merayap di sekolah dan kondisi anak
anak sakit (cacar air).
bismillah semoga masih dapet “ruh”nya.
bismillah semoga masih dapet “ruh”nya.
Pada tantangan hari kelima, mencoba untuk menerapkan komunikasi produktif
dengan abinya anak anak. Jarak yang memisahkan kami tidak jarang menimbulkan
miss persepsi dalam komunikasi, yang pertama karena kaidah 7-38-55 seringkali
tak terpenuhi.
Sedikit mengutip materi :
“Albert Mehrabian
menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap
(feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak
pada hasil komunikasi. Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi
adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).Anda tentu sudah paham
mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani
mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya
mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan
intonasi yang lebih Anda percayai? Nah, demikian pula pasangan dalam menilai
pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi
dan bahasa tubuh Anda.”
Nah disini, saya tak mampu menangkap bahasa tubuhnya, tak
mampu melakukan kontak mata, karena komunikasi
yang mengandalkan pada tehnologi terkadang ada saja hambatannya, sinyal yang
jelek, waktu yang tidak tepat dan lain sebagainya.
Suatu waktu aku pengin sekali nelfon, aku tahu bahwa ini jam
sibuk ngantor. Tapi kalau yang namanya “rindu” sudah mulai menggoda terkadang
lupa pada kaidah “choose the Right Time”. Hasilnya adalah “failed”, untung saja
sudah divaksin dari penyakit “baperan”. So, akhirnya aku meminta maaf karena
merasa telah mengganggu jam sibuknya, lalu paksu memberikan pilihan waktu jam
segini, dan jam segini. Eh ndilalalahnya jam jam tersebut aku sibuk, hasilnya failed
lagi. Aku tak boleh menyerah harus aku coba untuk membangun komunikasi yang
produktif dengan pak suami meskipun jarak telah memisahkan, tetapi hati tak
boleh terpisah.. eeaaa
Masih ada sajadah panjang yang menanti untuk di gelar,
memohon kepada sang Maha Cinta yang mampu menautkan hati.
Mengutip sebuah nasihat dari seorang ustadz :
Ketika berpikir tentang keluarga, saya berpikir tentang sebuah cita-cita, mimpi dan tujuan yang harus diperjuangkan.Itulah sebabnya kenapa saya tak terlalu terobsesi dengan kata "kebahagiaan". Karena bagi saya menikah dan berkeluarga adalah "Berjuang, menderita, lalu syahid di dalamnya sambil berpelukan" Ust. Aad.
Ketika berpikir tentang keluarga, saya berpikir tentang sebuah cita-cita, mimpi dan tujuan yang harus diperjuangkan.Itulah sebabnya kenapa saya tak terlalu terobsesi dengan kata "kebahagiaan". Karena bagi saya menikah dan berkeluarga adalah "Berjuang, menderita, lalu syahid di dalamnya sambil berpelukan" Ust. Aad.
Dan tak lupa qoute’s ini aku kirimkan juga kepada pak suami.
Dan alhamdulillah kecupan manis mendarat di WA meskipun hanya terwakili oleh
emot.
#hari5
#GamesLevel1
#Tantangan10hari
#KuliahbunsayIip
#KomunikasiProduktif

Tidak ada komentar:
Posting Komentar