Memasuki hari #4 masih dalam tantangan gamelevel1. Saya diajak konsisten untuk menerapkan komunikasi
produktif. Lost control dan teriakan sudah mulai agak berkurang, lebih memilih
untuk tarik nafas panjang dan senyum mengembang saat menghadapi masa masa sulit
dan menegangkan ketika membersamai anak.
Sudah hampir sepekan anak anak langsung tantrum ketika saya pulang kerja. Jam sudah menunjukkan pukul 17.45 dan saya baru menjejakkan kaki
di rumah langsung disambut tangisan kakak karena saling berebut mainan dengan
adiknya. Bukan sekali dua kali ya, disambut dengan tangisan ketika pulang
kerja.
Capek .. iya banget!
Tapi apa boleh buat dari pada suasana menjelang maghrib menjadi gawat
saya memilih untuk melupakan rasa capek karena bekerja seharian dan kebetulan
sedang banyak kerjaan di Sekolah karena akan ada kunjungan dari sekolah lain.
Seperti sore ini, saya lihat kakak alissa sudah berpakaian rapi tetapi wajahnya
murung, ternyata dia ga jadi berangkat ngaji . kutanyakan sebabnya ternyata pengin ngaji di antar ummi.
Jawabnya memelas.
Berulang kali dia mengeluhkan
kenapa ummi pulangnya terlalu sore, dan hampir maghrib.
Mendengar keluhannya saya coba tanggapi dan menunjukkan rasa empati atas
pertanyaannya. Sementara belum saya jelaskan kenapa ummi pulang terlambat. Menunjukkan
rasa empati atas keluhannya saja
ternyata mampu meredam tantrum dan marahnya.
Terkadang anak anak tak butuh kata kata panjang atas alasan yang kita
buat, sedikit saja sisakan rasa empati telah membuat mereka merasa senang dan
nyaman.
Satu pelukan dan ciuman mendarat dipipi ummi, tanda dia senang dan merasa
tenang.
Menunda rasa capek dan lelah
demi anak adalah seni dalam pengasuhan.
Disinilah merasakan betapa menjadi ibu bukanlah perkara mudah, dibutuhkan
kesungguhan untuk konsisten meredam rasa marah dan menghapus ego .
Setelah seharian beraktivitas diluar rumah, penginnya segera beristirahat
tanpa dirusuhi oleh rengekan bahkan
tangisan anak. Ya kan... ya kan...
Ini namanya jauh panggang dari api heheheh,..
Awalnya sempat stress dengan kondisi ini, tapi dengan belajar konsisten
menerapkan komunikasi produktif dengan anak, sedikit demi sedikit mulai belajar
menerima kenyataan.
Kenyataan itu tidak selalu indah sesuai harapan.
Tapi seiring berjalannya waktu mulai menyadari inilah seni dalam pengasuhan.
Belajarlah ikhlas menerima, tak perlu kaget jika ekspektasi jauh dari
kenyataan.
Dan bisikkanlah bahwa aku
adalah ibu bahagia yang perlu banyak memperbaharui rasa syukur. Diluar sana
ada banyak pasangan yang menantikan hadirnya tangisan dan rengekan anak kecil
dirumahnya. Bersyukurlah karena saat ini menjadi orang yang dipilih oleh Allah
untuk mengemban amanah mulia membesarkan anak anak peradaban, yang akan selalu
kita nantikan doa doanya saat kita telah tiada.
Bersyukurlah dan jadilah ibu yang
bahagia.
#hari4
#GamesLevel1
#Tantangan10hari
#KuliahbunsayIip
#KomunikasiProduktif

Tidak ada komentar:
Posting Komentar