Part 1
Seperti biasanya, setiap pagi aku dan Ibu bergegas menuntaskan pekerjaan masing-masing. Setelah kami jemput awal hari ini dengan 2 rakaat shubuh di masjid dekat rumah, tak lupa sisipan do’a qunut yang tak pernah tertinggal. Dzikir panjang sang Imam membuat Ibu larut dalam khusyuk munajatnya, Ku lirik Ibu masih komat-kamit dengan bijian tasbih yang tergenggam ditangannya.
Lama ku perhatikan Ibu karena Ma’tsuratpun telah usai ku baca. Gurat-gurat ketuaan makin terlihat, pipinya tak lagi semontok ketika muda dulu, meskipun aku juga tak pernah melihat beliau ketika muda. Sempat melihat melalui photo yang bapak simpan, photo ketika masih gadis katanya. Berkepang dua, dengan lesung pipit yang nyaris tak terlihat, karena tertutup gembil pipinya.
Lekat-lekat ku tatap. “dipenghujung usianya masih semangat saja” kataku..
Seperti biasanya, jum’at pagi giliran Ibu mengisi pengajian di mushala ujung desa. Sudah berapa lama beliau lakukan itu akupun tak tahu. Melebihi usiaku yang kini tengah seperempat abad, mungkin.. dengar-dengar cerita darinya, setelah usiaku genap 40 hari aku sering digendong kemana-mana (upz.. bukan lagunya mbah Surip) dari satu majelis ke majelis yang lain, jika ada anggota majelis terkecil saat itu, mungkin itulah aku yang masih dalam bedongan kain. Memoriku tak mampu menangkap moment itu hanya mendengar cerita dari teman-teman Ibu.
Yang sempat ku ingat adalah pengajian malam jum’at di mushola yang sama, meskipun derasnya hujan, Ibu selalu memaksakan diri untuk berangkat ke majelis itu, tak lupa setelah meredakan rengekanku yang terus meraung karena ku tak mau ditinggal dirumah, namun juga tak mau diajak karena kondisinya hujan dan gelap, dan itu membuatku takut.
Akhirnya, mengalahlah aku dengan rayuan Ibu “ Nak, tak inginkah kau di sayang Allah??” tanyanya padaku, aku hanya terdiam membisu, tak mampu terjemahkan kata-kata Ibu. Dan aku berpikir jika aku tetap di rumah bersama kakak-kakakku itu bukanlah sebuah pilihan, karena pasti aku hanya akan digoda dan dibuat menangis sesenggukan hingga ibu pulang.
Selepas tunaikan rakaat Isya bersama Bapak. Aku digendongnya menuju mushola dengan payung yang tertenteng di tangannya. Kondisi jalan desa yang becek dan gelap, karena waktu itu belum diaspal dan lampu penerang jalan belum ada, tidak membuat Ibu lemah semangat dan mengurungkan niatnya.
Itulah yang sempat terkenang, sehingga benar kata Alqur’an terkadang anak, keluarga dan dunia menjadi godaan untuk tetap istiqomah berjuang di jalannya, coba saja jika Ibuku waktu itu tak bersabar. Mungkin sering izin “ maaf Ibu-ibu, saya tidak ngisi ta’lim dulu karena sikecil umu merengek nangis terus jadi saya tidak bisa berangkat ke pengajian”.
“Astaghfirullah, maaf kan aku Bu, pernah menjadi salah satu bagian dari ujian keistiqomahanmu” desahku.
Umu Sulaim
22 September 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar