Selasa, 21 April 2009

Biarkan Perempuan Berkiprah

Diakui atau tidak, peran perempuan dalam kehidupan ini memberikan arti tersendiri di setiap persada sejarah. Baik yang sudah pasti bagi mereka (peran domestic) maupun peran public. Bukan menjadi hal yang rumit dimasa sekarang ketika mengharap perempuan memainkan beberapa perannya sekaligus. Perempuan kemudian menjelma menjadi wonderwomen. Yang memiliki kapasitas ideal, sehingga dapat mengisi pos-pos penting dalam urusan domestic maupun urusan public.
Banyak anggapan yang memang perlu dikuatkan dengan data akurat melalui penelitian, bahwa pada praktiknya perempuan cenderung lebih gemi, nastiti dan prasaja dalam menjalani aktivitas kesehariannya. Dan hal tersebut merupakan factor utama bagi siapapun untuk menuai keberhasilan dalam menjalankan setiap peran.
Peran domestic perempuan tak bisa dianggap enteng dan ringan, tidak mudah menyelesaikan setiap pekerjaan rumah, misalnya tanpa bekal kesabaran dan keuletan. Hal inilah yang sering kali luput dari pandangan dan penglihatan kita semua. Sehingga menganggap remeh urusan-urusan domestic. Padahal peran ini merupakan peran yang sangat luar biasa, tidak semua orang mampu menjalankannya. Terlebih bagi perempuan, yang menjalankan dualisme perannya sekaligus.
Meskipun dalam beberapa anggapan yang lain bahwa, sering kali perempuan diletakkan dalam posisi konco wingking atau bahkan hanya sebagai objek kapitalisme dalam proses transformasi social ekonomi. Dalam hal ini saya mengajak untuk melihat semua ini dari kacamata yang berbeda. Agar anggapan tersebut tidak menjadi suatu momok yang akhirnya dengan sendirinya kita akan membenarkan anggapan tersebut. Karena bagaimanapun juga perempuan harus berkiprah. Ada banyak peran yang nyata-nyata dapat dikerjakan oleh perempuan. Bukan bermaksud memprovokasi, hanya sekedar mengajak, mari tengok dari sisi pandang yang lain.
Perempuan disetiap sisinya merupakan makhluq yang secara unik tercipta untuk memperindah dan mempercantik kehidupan ini. Dengan kesabaran dan keuletan tak sedikir perempuan mampu menghancurkan dinding egoisme kaum laki-laki. Percaya atau tidak itu realitanya. Banyak para tokoh-tokoh paling bergengsi sekalipun, pasti tak akan pernah lepas dari sosok inspirator seorang ibu, istri atau anak perempuannya.
Namun bukan berarti hal ini tidak menyisakan suatu keraguan bagi seorang perempuan untuk memulai kiprahnya. Ada sebentuk keraguan yang bermula dari ketidak mampuan untuk mengukur kapasitas diri, sehingga meskipun secara fitrah potensi perempuan itu bisa berkembang dengan baik namun rupanya mandul dengan sendirinya. Oleh karena, ketidak sigapan menangkap potensi unggulan yang khas dikaruniakan bagi seorang perempuan. Yang tersisa adalah keraguan. Bagaimana kita bisa mengungkap keadaan ibu rumah tangga (perempuan) yang tidak mengambil peran public, apakah sesungguhnya mereka menikmati kondisi ini ataukah sebetulnya mereka tetap mengeluh atas keadaannya, ataukah melihat lingkungan (baca:keluarga) yang diuntungkan atau malah dirugikan karena keterlibatan perempuan dalam ruang public. Hanya perempuan yang mampu menjawabnya.
Tak selayaknya kebimbangan itu terus merajai, sehingga perempuan tak lagi mampu memperjuangkan eksistensinya. Meskipun sesungguhnya perempuan terkadang tak butuh pengakuan, hanya butuh ruang dan kesempatan untuk melakukan pembuktian. Ruang dan kesempatan perlu diciptakan bukan malah dibatasi. Mengatas namakan pada letak dasar perempuan paripurna, harus tetap berada dalam batasan-batasan ruang domestiksnya sehingga memberikan dinding pembatas yang teramat tinggi dan sulit untuk ditembus. Bukankah kemaslahatan (kebaikan) semaikn dapat dirasakan lingkungannya, manakala seorang perempuan mampu berkiprah tanpa membatasi pada sekat-sekat domestic ataupun public. Semua layak untuk diperjuangkan. Dunia ini tetap menantikan kiprah perempuan, sebagai peletak dasar pembangunan peradaban.
“ seperti semangat Kartini yang tak pernah mati. Meskipun singkat hidupnya, kita dapat bercermin. Hidupnya penuh obsesi dan mimpi, tak sekedar pada batasan sekat emansipasi namun lebih dari itu “

Selamat hari Kartini, bagi Perempuan Indonesia !!
Pekalongan, 21 April 2009

1 komentar: