Tampilkan postingan dengan label Melatih Kemandirian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melatih Kemandirian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Desember 2017

#Melatih Kemandirian hari 11

saya memutuskan untuk melanjutkan tantangan di game level2 kelas bunsay, semoga bisa istiqomah membuat report sampai hari kelima belas. aamiin

pagi ini berencana untuk mengikuti aksi #Bela Palestina
selepas melaksanakan jamaah sholat subuh, kakak dan adik bergegas untuk  bersiap siap. termasuk berinisiatif mengambil celengan masing masing untuk disumbangkan dalam aksi ini.
anak anak menyiapkan keperluannya masing masing apa saja yang akan dibawanya.
kali ini mereka sangat senang sekali, biasanya ketika mau bepergian umminya ngomel panjang lebar mempersiapkan dan mengingatkan ini oitu bekal yang harus dibawa.

selesai ummi menyiapkan sarapan, anak anak makan dengan lahap. karena akan tahu bahwa saat aksi nanti butuh tenaga yang banyak, karena harus longmarch dan tentunya kuat berdiri. oleh karena itu mereka bersemangat untuk makan.

waktu sudah menunjukkan pukul 6.45 setelah mandi dan menggunakan bajunya masing masing anak anak membantu ummi untuk memesankan gojek dan nungguin HP kalau  kalau abang gojek memanggil.
ternyata anak anak kalau ada maunya, atau kalau akan diajak bepergian ketempat yang sekiranya mereka suka dan senang, akan terlihat lebih mandiri.

lanjutkan!
semoga besok lebih baik.

#harikesebelas
#tantangan10hari
#level2
#kuliahBunsayIIP
#melatih kemandirian



Sabtu, 09 Desember 2017

Melatih Kemandirian #10

Melatih Kemandirian #10
Waktu berlalu begitu cepatnya, tidak terasa sudah memasuki hari yang kesepuluh dalam game level 2 melatih skill kemandirian anak. Apakah sudah terlihat perubahan dan hasilnya, tentu saja jawabnya belum ya karena masih berproses paling nggak progressnya sudah nampak,  dalam game level ini yang paling tertantang bukanlah anak anak tetapi saya sebagai orangtuanya. Dahulu saya berfikir anak anak akan secara otomatis mengetahui dan memahami hal apa saja yang harus dilakukan terkait kemandirian atau practical life, asal orangtuanya membiasakan dirumah. Ternyata membiasakan saja tidak cukup, harus ada keteladanan, komunikasi dua arah, dan konsistensi kedua belah pihak. Tanpa adanya hal itu penguasaan terhadap skill kemandirian akan mengalami hambatan.
Tak jarang kita temui ada anak yang sudah berusia sepuluh tahun lebih tetapi hal mendasar terkait self help belum mampu mereka kuasai. Saya pernah lho, menemui salah seorang anak SD kelas 6 memakai sepatu saja masih harus dibantu oleh orang tuanya, dan lebih parahnya lagi orangtuanya dengan sukarela membantu tanpa ada beban. Padahal anak ini sebetulnya mampu hanya saja pembiasaan dirumahnya demikian. Tentu saja  hal ini bukanlah sebentuk kasih sayang orangtua terhadap anaknya justru hal ini merupakan langkah yang menjerumuskan karena tidak memberikan kesempatan anaknya untuk belajar dan berproses.
Bersyukur banget diberikan kesempatan untuk melewati tantangan sepuluh hari melatih kemandirian anak.
Seperti pagi ini, diluar ekspektasi saya, adik ghizan begitu mendengar adzan subuh berkumandang langsung bangun dan minta sholat subuh.
“ummi, sudah subuh. Aku mau sholat” kata ghizan
“oke, mari doa bangun tidur dulu, terus kekamar mandi untuk wudhu”

Setelah selesai berwudhu, kemudian melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan ummi, biasanya anak anak berjamaan sendiri karena ummi sudah duluan sholat saat anak anak masih tidur. 
Setelah sholat kemudian berdoa, mengaji dan baca buku.
Senang sekali hari ini saya, rasanya seperti mendapatkan anugerah.
Kakak dan adik juga sudah mulai membiasakan diri untuk melepas baju dan meletakkan ditempat yang kotor, termasuk membereskan mainannya setelah selesai bermain.
Dan ternyata sepuluh hari ini saya targetnya bisa melatih minimal satu skill kemandirian ternyata kemandirian yang lain pun turut berproses.
Barakallahulakum


#harikesepuluh
#tantangan10hari
#level2
#kuliahBunsayIIP
#melatih kemandirian


Selasa, 05 Desember 2017

Melatih Kemandirian #7

Memasuki hari yang ketujuh di gamelevel2, masih melatih skill kemandirian untuk bisa melaksanakan sholat subuh dengan senang. Dan dihari yang ketujuh ini, kakak "mogok" nggak mau melaksanakan, karena bangun tidur digangguin adiknya hingga ngambek. Ummi berusaha untuk membujuk dan mengingatkan. Tapi kakak belum mau melaksanakan.
Akhirnya kakak berangkat sekolah tanpa melaksanakan sholat shubuh.
Sore hari nanti berencana untuk sama sama mengevaluasi agar kegagalan ini tidak berulang.
Berharap esok lebih baik lagi.

Senin, 04 Desember 2017

Melatih Kemandirian #5

Memasuki hari kelima dipekan melatih skill untuk bangun lebih pagi dan bersemangat melaksanakan sholat Subuh. Pagi ini kakak bangun kesiangan dan ummi sibuk didapur, hanya membangun kan kakak dengan sapaan dari dapur. Tak disadari ternyata sudah hampir jam 6 pagi. Dan hari ini adalah hari pertama UAS dan penilaian akhir semester. Ketika kakak bangun langsung kaget dan sedikit marah ke ummi karena ummi tidak bersungguh-sungguh membangunkan.

Maafkan ummi kakak,

Tapi ummi berharap dihari kelima ini kamu bisa lebih mandiri.

Sampai akhirnya kakak bersegera bangun dan langsung ke kamar mandi dan melewatkan sholat subuhnya karena kesiangan.

Duh.. maafkan umi nak. Terkadang masih ga tega untuk mendisiplinkan kamu terkait hal ibadah. Tapi ummi sangat berharap bahwa kamu melaksanakannya  tanpa paksaan tapi berawal dari kesadaran. Target ummi sebelum usiamu tujuh tahun adalah kamu menyenangi aktifitas ibadah dan tak akan membebanimu.

Dan ummi sudah cukup senang karena kamu mulai menyadari dan  ingin belajar berkomitmen untuk melaksanakan sholat subuh. Meskipun belum rutin selalu.

#harikelima
#tantangan10hari
#level2
#kuliahBunsayIIP

#melatih kemandirian

Rabu, 29 November 2017

Melatih Kemandirian #1

Bismillahirrahmanirrahiim
Memulai gamelevel#2 dihari yang pertama.
Setelah menerima materi dan mengikuti sharing di grup Bunsay#3 Jakarta. Saatnya untuk berlatih dan mempraktikkannya. Di game level #2 ini seputaran memandu kemandirian anak. Aseli ini PR banget buat saya, buat Alissa Ghizan juga buat abinya. Saya merasa bahwa ada banyak hal yang belum mampu saya terapkan untuk menumbuhkan kemandiriannya. Selama ini saya “santai-santai” saja, pikir saya toh nanti pada masanya mereka juga akan mandiri. Dan ternyata ini salah banget saudara-saudara, karena kemandirian anak ini perlu ditumbuhkan, perlu dilatih, dan terus dipantau. Tidak ada yang tiba tiba bin ujug ujug anaknya rajin shalat tanpa disuruh, anaknya bisa merapikan mainan tanpa ada contoh dan teladan.
Dengan materi kedua ini saya merasa di ingatkan bahwa ada banyak bangeeet PR.
Di hari #pertama ini saya mencoba untuk membidik sasaran, siapakah yang akan coba saya uji dan perbaiki kemandiriannya. Akan tetapi, berhubung alissa dan ghizan ini berdeketan secara usia, jadilah keduanya saya jadikan target Ups..
Saya mencoba membuat daftar skill kemandirian yang akan diasah, yang sebelumya saya tanya sana-sini gogling baca baca buku dan lain sebagainya, perihal standarisasi kemandirian anak usia pra SD. Tersebutlah saya nemu web rumah inspirasi dan lain sebagainya.
Mulailah saya memejamkan mata sembari beristighfar, ya Allah.. banyak banget rupanya yang belum saya ajarkan, yang belum saya nyalakan tombol tombol kemandirian pada mereka. Saya ambil yang paling penting saja dulu diantara yang terpenting. Mengikuti kaidah put first think first. Dan menjadikan waktu sebulan ini selama Desember untuk melatih paling nggak empat skill kemandirian, jadi one week one skill yang akan sama sama kami ikhtiari semoga bisa berhasil dan membawa dampak positif.
Adapun bentuk bentuk kemandirian yang akan dicoba adalah :
 (One Week One Skill) Bulan Desember
             Bangun tidur tanpa menangis dan bersemangat melaksanakan sholat shubuh
             Melepas baju sendiri dan meletakkan di bak pakaian kotor
             Mandi sendiri
             Menggosok gigi secara rutin dan senang
             Memakai baju sendiri
Mengawali prosesnya dengan ngariung bareng bada maghrib.
Sore ini pulang sembaril menikmati hujan, menggigil kedinginan karena tak bawa jas hujan maupun jaket. Alhamdulillah tadi nebeng bu Nunung dan diantar sampai depan komplek. Sepanjang perjalanan sudah terbayang, sampai dirumah pasti sudah mepet waktu adzan maghrib. Begitu sampai dirumah disambutlah oleh 2G. Izinlah saya ke mereka,
“ bersabar sebentar ya, ummi akan berganti baju mandi dan sholat maghrib. Selepas berganti baju 2G sudah merengek minta ditemenin makan anggur. Bekel sekolahnya yang belum di habiskan.
Wah PR banget ini, berusaha menahan untuk tidak menyuapi 2G. Sambil ngobrol dan bercerita habislah anggur itu, dan saya lulus untuk tidak menyuapi mereka. 2G ini mendadak hilang kemandiriannya ketika saya sampai dirumah. Apa apa mintanya dibantu, kemana ummi jalan selalu dibuntutin. Padahal bukan lagi anak Balita.. hwa hwa hwa (saya nangis dipojokan) kenapa bisa begini!
Padahal kalau di sekolah 2 G ini selalu nampak mandiri (ini bu guru mereka yang bilang) kakak sudah berinisiatif menjadi ketua kelas, sering membantu bu guru, mau berbagi dengan teman dan pencapaian kemandirian dalam hal yang lain, termasuk pencapaian nilai akademis nya yang bisa dikatakan “ bagus “.
Nyari yang sederhana dan dekat sajalah, PR nya kebanyakan yang harus di benahi.

Selepas sholat maghrib mulailah dengan obrolan ringan seputaran ini dan itu, kakak adik berebutan untuk berbagi cerita. Sampai sampai kakak menangis karena kena cubitan dari adiknya gegara adik ga diberikan kesempatan untuk bercerita duluan.
Emak memang harus bernafas panjang dan punya stok sabar yang tak berbatas.
Sudah pulang kerja kehujanan, cape sampai rumah disuguhi tangisan.. hehehheh
Alhamdulillah sudah belajar komunikasi produktif pada materi sebelumnya. Sehingga berusaha bijak dalam menghadapi 2G ini. Singkat cerita adik minta maaf kepada kakak dan saling berpelukan kemudian tertawa bersama.

Setelah selesai menanggapi curhatan 2G, tibalah saatnya saya menyampaikan bahwa mulai malam ini dan seterusnya kita akan belajar menjadi lebih baik. Karena kakak dan adik akan semakin besar dan harus sudah siap menjadi anak baik yang mandiri. Saya sampaikan tentang pilihan pilihan rencana skill kemandirian yang akan dicapai dengan bahasa yang mudah mereka fahami dan terima.
Berharap mereka mengingat dan mengerti bahwa ini skill kemandirian adalah sebuah kebutuhan bukan sebuah beban .. tsah.. (beban bagi ummi hihihi)
Saya sampaikan tentang manfaat bangun pagi dengan senyuman dan mengawali dengan doa. Bukan tangisan atau rengekan.
Pagi akan lebih indah jika diawali dengan senyum dan harapan.
Dan saat tidur  saya  bisikkan kalimat kalimat baik semoga terekam dalam alam bawah sadar tentang hal ini, dengan harapan melatih skill kemandirian di hari pertema akan lolos dengan predikat baik dan memuaskan. 
Amiin ya Allah, semoga Engkau mudahkan semuanya.

#Ikhtiar proses dihari pertama
#hari pertama
#tantangan10hari
#level2
#kuliahBunsayIIP

#melatih kemandirian