Minggu, 11 Januari 2009

Senin, 05 Januari 2009

Mengikat Gagasan, Menuai Tulisan

" Tak ada yang lebih berbahaya dari pada sebuah gagasan dan ide, jika gagasan dan ide tersebut hanyalah satu-satunya yang kita miliki "

Mengapa kita butuh menulis ??
Itulah pertanyaan pertama yang saya ajukan.,
Bisa jadi, karena kita memahami bahwa warna akan pudar, kuil akan ambruk, kerajaan akan runtuh, namun kata-kata bijaksana tetap abadi. Mengutip perkataan imam Ali, bahwa pengetahuan ada dalam pena dan tulisan, maka ikatlah setiap pengetahuan dalam tulisan. Namun terkadang terlalu sulit bagi kita untuk menuliskan setiap pengetahuan yang ditangkap oleh panca indera kita, hal tersebut terjadi mana kala kita tak terbiasa mengikat ide, gagasan, cerita, bahkan pengetahuan melalui pena, yang lama kelamaan ide-ide tersebut berhamburan entah kemana, karena keterbatasan memori otak kita untuk mengingatnya.
Gagasan dan ide adalah sumber kreatifitas, yang membuat segala sesuatu lebih bermakna. Kraetifitas merupakan sebuah upaya menemukan hal-hal yang luar biasa dibalik hal-hal yang nampak biasa. Menulis dan kreativitas adalah satu hal yang saling sinergi dan memberi nyawa. Menulis membutuhkan charge kreativitas yang nyaris tanpa batas, sedangkan kreativitas tanpa dituangkan dalam bentuk tulisan, bagaikan mengolesi papan tulis dengan debu. Mudah tersapu angin, akhirnya hilang tak tersisa. Pikiran kita akan terformat secara otomatis manakala kita terbiasa menangkap apa yang dilihat, didengar dan dirasa, dan menjadikannya sebuah ide dan gagasan yang dapat digabungkan menjadi sebuah karya baru, yang disebut sebagai sebuah kreatifitas dalam bentuk tulisan.
Alex F. Osborn, membedakan 4 kemampuan berpikir pada manusia sebagai berikut:
1.Kemampuan serap (absorptive), yaitu kemampuan dalam mengamati dan menaruh perhatian atas apa yang diamati tersebut.
2.Kemampuan simpan (retentive), yakni menghapal dan mengingat kembali apa yang telah dihapal tersebut.
3.Kemampuan nalar (reasoning), yakni kemampuan menganalisis dan menimbang.
4.Kemampuan cipta (creative), yakni kemampuan membayangkan, menggambarkan di muka, dan melahirkan gagasan-gagasan.
Kreativitas, menurut The Liang Gie didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menciptakan penggabungan baru. Kreativitas akan sangat tergantung kepada pemikiran kreatif seseorang, yakni proses budi seseorang dalam menciptakan gagasan baru. Maslow menambahkan, bahwa orang-orang yang berjuang memanfaatkan potensinya untuk menggabungkan seluruh kemampuannya, digambarkan sebagai orang-orang yang mengaktualisasikan dirinya, dan aktualisasi diri merupakan pemenuhan kebutuhan seseorang yang tertinggi setelah kebutuhan primer dan sekundernya terpenuhi.
Menulis merupakan ruang untuk menuangkan salah satu atau bahkan beribu-ribu gagasan dan ide-ide kita, lalu menggabungkan hal tersebut menjadi satu karya baru yang kita ciptakan. Namun terkadang sulit bagi kita untuk mengikatkan gagasan dan ide kita pada deretan kata-kata. Sekedar untuk memulai saja sulit bagi kita.
Padahal seandainya saja kita tahu bahwa dalam sehari ribuan ide dapat kita petik, nah..kalau dari ide-ide itu coba kita rangkai dalam proses kreatif, sudah barang tentu banyak karya yang telah kita hasilkan. Yah.. semestinya, namun terkadang kita tak menyadarinya, hingga sulit bagi kita untuk menuliskan. Karena kita tidak terbiasa, tidak pernah berlatih. Kalau kita memahami bahwa Otak kita (yang beratnya ٢% dari berat tubuh) selama ini rata-rata digunakan hanya ٤%. Sedikit sekali kita manfaatkan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.
Ada beberapa cara bagi kita untuk memulai mengawali kebiasaan mengikat ide dan gagasan kita dan menuangkan dalam bentuk tulisan, yang pertama milikilah kebiasaan membaca, aktivitas membaca bagi seorang penulis merupakan senjata yang ampuh, banyak membaca akan memberikan kita banyak pengetahuan, dengan pengetahuan tersebut maka akan didapatkan ribuan ide yang bisa kita rangkai, aktivitas menulis adalah aktivitas memberi, lantas apa yang bisa kita berikan jika tak memiliki apa-apa, ibarat mesiu tanpa peluru maka tak akan gunanya. Aktivitas membaca bagi seorang penulis mutlak adanya, hal ini merupakan investasi. Namun, jika saat ini kita belum memiliki kebiasaan ini, maka bersegeralah luangkan waktu, atur jadwal dan temukan bedanya, orang yang banyak membaca secara otomatis akan banyak tahu, orang yang banyak tahu tak akan pernah kehabisan ide dan gagasan, dan agar ide dan gagasan tersebut tidak hilang, ikatlah dalam bentuk tulisan.
yang kedua biasakanlah menulis dalam Diary atau catatan harian., seperti kita ketahui bersama catatan harian itu sangat penting dan bahkan bisa menjadi karya sejarah yang mahal harganya, seperti buku harian seorang tokoh ternama misalnya, meskipun saat ini kita belum menjadi orang-orang yang terkenal. minimal kita telah melakukan kerja-kerja jurnalistik dengan senantiasa mendokumentasikan apa yang kita dengar, apa yang kita rasa dan apa yang kita alami. Dengan terbiasa menuliskan pengalaman hidup yang telah kita jalani berarti kita sedang menyimpan sebuah sumber ide yang terbaik, dengan terbiasa menuliskan pengalaman hidup kita dalam catatan harian kita, berarti kita akan dibiasakan membahasakan perasaan-perasaan, ide-ide dan gagasan kita dalam bahasa tulisan, dan hal ini merupakan salah satu modal yang harus dimiliki oleh penulis pemula.
Yang ketiga senang berdiskusi, dengan terbiasa berdiskusi maka akan memperkaya wacana dan wawasan kita, serta mengurangi subyektivitas atas pendapat diri kita sendiri, dengan berdiskusi kita akan mendapatkan ide dan gagasan tambahan, dan dapat melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Berdiskusi tak harus menjadikan kita banyak berbicara, mendengarkan dan belajar berempati terhadap orang lain pun bisa menjadikan ide dan gagasan kita bertambah, pekerjaan mendengar akan membiasakan kita dapat menyerap dan mengambil hikmah dari apa yang diceritakan orang lain kepada kita. Ajaklah orang lain membahas tentang sesuatu hal, misalnya,, dengarkanlah pendapatnya, dan tangkaplah pesan yang ada, yakini itu akan memperkaya wawasan kita.
Yang keempat berusahalah untuk berempati dan lihatlah lebih dekat, banyak para penulis yang memulai ide dan gagasan karena melihat sesuatu lebih dekat dan merasakannya. Pernah membaca tetralogi Andrea Hirata, tentu kita akan berdecak kagum atas karyanya, atau membaca ayat-ayat Cintanya Habiburrahman El Siraszhi, lalu kenapa karya mereka bisa sedahsyat itu, salah satu diantaranya karena penulis merasakan dan melihat lebih dekat. Kisah hidup anak-anak di pulau Belitong begitu manis digambarkan oleh Andrea Hirata, atau kisah hidup Fachri di Mesir, begitu Indah digambarkan oleh Kang Habib, sekali lagi karena ia merasakan dan melihat lebih dekat, sehingga pemilihan kata dan diksi dalam mendeskripsikan jalan ceritanya sangat asyik untuk kita nikmati bahkan kitapun ikut terhanyut didalamnya. Terlepas dari karya-karya penulis besar diatas, sebagai penulis pemula kita pun dapat mengambil ide dan gagasan dari hal yang demikian, misalkan ketika kita melihat penindasan yang dialami oleh seseorang, lalu kita berempati karenanya dan berusaha melihat lebih dekat, tentu kita akan mendapatkan gambaran yang nyata dan sesungguhnya, sehingga ide dan gagasan itupun dapat kita tangkap dan mengikatnya dalam sebuah tulisan.
Beberapa hal diatas, merupakan salah satu dari sekian banyak cara bagaimana kita sebagai penulis pemula untuk memulai aktivitas kita bergelut dengan dunia kata-kata. Dan sekali lagi, ide yang mampir dikepala kita butuh untuk diikat, agar tidak berlarian kesana kemari, dan cara yang paling tepat untuk mengikatnya adalah dengan menuliskannya. Meski sangat singkat dan sederhana mulailah tuliskan. Dan suatu saat kita akan menuai buah pikiran kita melalui tulisan-tulisan yang kita rangkai, dan karya pun kita hasilkan, meskipun mungkin hanya layak untuk kita konsumsi sendiri, tetapi setidaknya kita memiliki investasi ide yang sewaktu saat bisa kita ambil dan rangkai menjadi karya yang dapat dipublikasikan. Kuncinya kita mesti PD, bahwa tulisan kita layak dibaca orang lain. Dengan menulis berarti kita telah turut serta menyumbangkan gagasan bagi orang lain, dengan menulis berarti kita telah belajar pula untuk berempati kepada orang lain.
Pekalongan, 5 Januari 2009
Umu Sulaimah S.Pd.I
Jl. Untung Suropati 3/V No. 50 Tegalrejo Pekalongan
Pekerjaan sebagai Guru di SDIT Ulul Albab Pekalongan
Aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Pekalongan, Alkindi Club Kota Pekalongan, KMMP ( Keluarga Mahasiswa Muslim Pekalongan )
Call 085641735644.

Senin, 29 Desember 2008

"Faidza Faroghtafanshob.........."

Seperti biasa, tas ransel hitam masih setia menemaniku, cukup berat memang isinya, namun tak seberat beban yang ada dipundakku.
Setelah kuterima tawaran untuk mentransfer sebagian ilmu yang kuperoleh dibangku kuliah, bersama celotehan anak-anak yang kan kudengar setiap waktu.

" Aku belum lulus, mba " …. Desahku
Sesaat setelah mendengar tawaran tentang sebuah amanah baru untuk membersamai anak-anak, dari teman satu halaqohku,..

Sejenak kuterpaku keraguan membuncah mengisi ruang fikir, yang telah sesak, mengingat amanahku untuk menjadi kordes dan sekretaris korcam selama aku KKN juga belum usai untuk ku tunaikan. 3 minggu lagi pengabdianku di desa terpencil ini baru akan berakhir, kehidupan pedesaan yang mengajarkan akan arti sebuah ketulusan dan kesederhanaan.

Meskipun tak dapat kuingkari, ini merupakan sebuah tawaran yang sangat istimewa bagiku, sebuah sekolah ternama dikotaku, bersedia menerima lamaranku meski gelar sarjana belum kusabet, hanya berbekal transkip nilai terakhir dg IP 3,86.
Keraguan masih terus membuntutiku, hingga kucoba mantapkan azam, pemberkasanpun ku lalukan, meski harus bolak-balik dari desa tempat ku KKN menuju gerbang sekolahan itu yang berjarak sekitar 37 KM, belum lagi amanahku sebagai koordinator desa, yang tengah mempersiapkan event besar yang digelar bersama teman-teman KKN.
Proses seleksipun aku ikuti, satu persatu soal-soal kujawab. Sembari memantapkan azam ya Rabbi berikanlah yang terbaik untukku. Dengan harapan, semoga muwashofat kadirun 'alal kasbi dapat kupenuhi, kader dakwah harus mandiri prinsipku.

Kuseka peluh diwajahku, beban berat ini akhirnya terkurangi,…
Hari ini terakhirku KKN. Pelepasan di kantor kecamatan, menyisakan kesedihan tak berperi, air mata tak terbendung, mengalir dengan derasnya,..
Desa yang penuh kenangan akan segera kutinggalkan.
Bus telah berjajar menunggu deretan kafilah KKN dikembalikan kekampus, dengan harapan telah banyak pelajaran mereka dapatkan dan ruang pengabdian telah terpenuhi oleh sederet aktivitas serta bermacam-macam kegiatan.

Ponselku berbunyi, Pesan masuk dari No HP yang tak kukenal,..
Berisi panggilan untukku memasuki dunia baru,..
"Faidza Faroghtafanshob.........."
Gumamku……
Tepat sehari setelah aku KKN, aku sudah mulai masuk ke sekolah itu,,.
Illahi tak terbayangkan,..
Bagaimana aku dapat membagi waktuku, belum juga terpikir bagaimana nasib Skpripsiku, tapi sudahlah, buru-buru kutepis keraguan itu.
Kesungguhan adalah jawabannya, ketika Allah berikan pilihan ini, tentu Ia lebih tahu yang terbaik untukku.
Lari Sprint yang segera harus kulakukan,..

Kupandang sekeliling ruang kelas mungil, yang bakalan aku huni bersama 18 siswa, amanah baru untuk menjadi wali kelas akhirnya kuterima juga,
Meski akupun menyadari aku tak seSabar bu Muslimah, gurunya Ichal dalam Laskar Pelangi atau tak seideal Umar Bakri dalam syairnya Iwan Fals,.
Ku hanya punya harapan, dengan mereka kan kurangkai bait dan cerita tentang indahnya belajar dan kesungguhan untuk mengukir prestasi bersama-sama.
Kini kulakoni dua fungsi sekaligus, mahasiswa dan guru, meskipun bukan sesuatu hal yang mungkin istimewa, namun aku senang menjalaninya..
Allah begitu indah, Kau lukis alur hidupku…….


Bersambung…………….

Pekalongan, 10 Juli 2008

Minggu, 28 Desember 2008

MENARA SYURGA

Ku eja angka Sembilan puluh Sembilan koma Sembilan
Diantara titik puncak menara kehidupan
Lelah hati melingkar bumi
Menggapai mimpi yang tak pernah henti

Ku eja angka Sembilan puluh Sembilan koma Sembilan
Diantara desir do'a diujung pengharapan
Bercerita tentang kemesraan Syurga
Yang tersenyum dilangit-langit kesadaran

Ku tata langkah bersama asa yang membuncah
Tengadah tangan
Berharap pada kuasaMu
Tuhan…………

Pekalongan, April 2008

Sang Murabbi

Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Terik matahari
Tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai
Tak lunturkan azzammu
Raga kan terlukaTak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia
Tak silaukan pandangmu
Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atasmu
Duhai pewaris nabi
Duka fana tak berartiSurga kekal dan abadi
Balasan ikhlas di hati
Cerah hati kamiKau semai nilai nan suci
Tegak panji IllahiBangkit generasi Robbani

-Izzatul Islam-

Harap dan Asa


Dalam kehampaan
Ku berharap, Asa masih dapat ku temukan
Merangkai kembali bait Cita-cita
Yang mulai memudar warnanya

Wahai Dzat yang maha Tahu,..
Pertemukan aku
Bersama Fitrah dan Kasih Mu
Yang akan menyeka setiap peluh
Basah diraut wajah
Hilangkan kepura-puraan
Dan kepalsuan

Wahai Dzat yang Maha Perkasa,..
kapankah kiranya
Engkau pertemukan aku dengan petunjukMu
Yang akan membawaku
Menuju singgasana ArsyMu
Menghapuskan kesedihan
Membongkar kebekuan
dan
Memberi warna pada hatiku
Yang kini Kelabu,………

Pekalongan, 28 Desember 2008

Kawan Perjalanan

Biarkan persaudaraan kita
mengalir seperti air yang menyejukkan............
atau udara yang melegakan...atau bumi yang mengokohkan....atau api yang menggelorakan...biarkan ia tumbuh seperti benih yang tersemai&bunga-bunga yang bermekaran......... bukan sekedar bahagia.. tapi bersama meraih SyurgaNya..
terima kasih mba...
atas potongan persembahan
yang menjadi mozaik cantik
pelangkap karya dan usaha..,,