Rabu, 26 Agustus 2009

Menata Spirit Ramadhan

Menata Spirit Ramadhan


Nuansa Religius sangat kental terasa ketika bulan Ramadhan tiba masjid dan mushola dipenuhi dengan para jamaah. Kajian-kajian keislaman bertebaran dimana-mana. Suara lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an terdengar membahana. Sekejap tiba-tiba nuansa rabbaniyah hadir memenuhi ruang hati kita, menggerakkan setiap sendi untuk berdzikir mengagungkan asmaNya. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari kebarakahan bulan Ramadhan yang menawarkan keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan sebelas bulan yang lainnya.

Akan tetapi kitapun tak dapat memberikan jaminan apakah suasana ini akan terus bertahan sampai dipenghujung Ramadhan bahkan sampai sebelas bulan berikutnya? Ataukah hanya sebuah romantisme di awal-awal Ramadhan saja. Seperti kenyataan tahun-tahun sebelumnya, di awal Ramadhan masjid dan mushola ramai dengan aktivitas ibadah akan tetapi berlahan-lahan keramaian itu akan berpindah ke pasar, mall, dan tempat perbelanjaan lainnya dengan alasan mempersiapkan untuk menyambut hari Raya Idul Fitri. Seakan menjadi kebiasaan rutin yang entah mengambil dalil dari mana.

Sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah dan generasi sahabat (semoga Allah merahmatinya). Dalam sebuah Hadits disebutkan “ Aisyah r.a. berkata, “ Nabi apabila telah masuk sepuluh malam (yang akhir dari bulan Ramadhan) beliau mengikat sarung beliau, menghidupkan malam, dan membangunkan istri beliau." (HR. Bukhari) artinya Rasulullah semakin meningkatkan intensitas dan kuantitas dalam beribadahnya di akhir-akhir bulan Ramadhan.

Ramadhan dihadirkan oleh Allah SWT khusus untuk kaum Muslimin agar dapat digunakan sebagai madrasah untuk mendidik kemauan dan kesungguhan melawan hawa nafsu, membiasakan berlaku sabar, menahan kesenangan dan membiasakan hidup disiplin. Melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan selama bulan Ramadhan baik melalui puasa, shalat sunnah, tarawih, tilawah Qur’an dan ibadah yang lainnya jiwa kita sedang dididik untuk lebih dekat dengan Tuhannya. Dibina untuk lebih bersyukur atas seluruh karunia yang diberikan dan diajari untuk lebih bersabar atas apapun yang menimpa.

Didalam keseharian dan aktivitas kehidupan, manusia dituntut berlaku sabar. Baik sabar dalam menjalani ketaatan maupun sabar dalam menjauhi maksiat. Hal ini dapat di latih melalui aktivitas puasa sebagaimana Rasulullah SAW bersabda “Puasa adalah perisai yang menyelamatkan dari neraka sebagaimana perisai seseorang di antara kamu di dalam peperangan”. Tentunya puasa yang bukan hanya sekedar menahan dari makan dan minum saja. Tubuh kita puasa, hati kita puasa, lidah kita puasa, telinga kita puasa, mata kita juga butuh untuk berpuasa.

Hati seorang mukmin haruslah senantiasa dididik untuk terbiasa puasa, puasa dari rasa takabur dan sombong serta penyakit hati yang lainnya.Lidah kita perlu berpuasa, puasa dari segala perkataan kotor, mencela, dusta, menghina dan lain sebagainya. Agar kita terhindar dari ancaman Allah seperti yang dituturkan Muadz bin Jabal kepada Rasulullah. Muadz bertanya, “ apakah kami akan disiksa akibat apa yang kami katakan, ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “ Ibumu menderita karena melahirkanmu, wahai Muadz. Manusia menelungkupkan muka ke neraka adalah karena lidah mereka”. Begitu juga halnya telinga dan mata kita perlu untuk diajak berpuasa agar terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Allah SWT berfirman “ … Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya. “ (Al Isra:36)

Melalui momentum Ramadhan inilah kita diberikan kesempatan oleh Allah untuk berproses dan bermetamorfosis agar diri kita menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa taat dan bertaqwa kepada Allah. Sehingga kehadiran bulan Ramadhan bukan sekedar rutinitas tetapi lebih kita maknai sebagai syahruttarbiyah, bulan pembinaan dan penempaan agar diri kita menjadi insan yang lebih mulia. Diawal ataupun di akhir Ramadhan, spirit kita akan senantiasa terus terjaga karena Ramadhan menawarkan segudang kemuliaan bagi siapa saja yang memahami dan menyadarinya.

Wa’Allahu A’lam
Umu Sulaimah S.PdI
Guru SDIT Ulul Albab dan
Direktur LSM Pendampingan Pelajar AL Kindi Club
Kota Pekalongan (085641735644)

Memasuki Pintu Pertaubatan

Mutiara Hikmah Ramadhan

Memasuki Pintu Pertaubatan

Kembali kita dipertemukan dengan bulan yang penuh dengan kemuliaan, penuh dengan kebarakahan. Segala sesuatunya bernilai ibadah dengan pahala yang berlipat ganda. Ibadah sunnah dinilai wajib dan ibadah wajib dilipat gandakan mencapai tujuh puluh kali. Ramadhan menjanjikan keistimewaan yang luarbiasa bagi kaum Muslimin. Rasulullah pernah bersabda “ Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. (HR. Bukhari).

Adakah orang yang tak memiliki dosa sepanjang hidupnya? Tentu saja jawabnya tidak ada , oleh karenanya Allah sediakan satu bulan istimewa diantara sebelas bulan yang lainnya. Yang khusus diberikan kepada kaum muslimin, agar memaksimalkan kehadiran Ramadhan sebagai bulan taubat dari seluruh dosa-dosa yang telah dilakukan. Sehingga ketika keluar dari bulan Ramadhan kita akan kembali menjadi insan yang fitri. Dengan syarat taubat yang dilakukan adalah taubat yang sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan maksiat lagi.

Sebagaimana kita melihat dan menyaksikan nuansa rabbani sangat kental terasa ketika Ramadhan datang menyapa. Kaum muslimin datang berduyun-duyun untuk meramaikan masjid dan mushola, memperbanyak kajian, tadarus Alqur’an dan lain sebagainya. Lantunan ayat suci Alqur’an terdengar membahana di mana-mana. Tak kalah menariknya tayangan televisi pun mengikutinya, banyak sinetron-sinetron ataupun acara lain yang di kemas khusus berbau religius. Suasana kondusif tersebut tentu saja tidak terlepas dari kebarakahan bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda Dari Abu Hurairah ra.
Rasulullah saw. Bersabda “Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu.”(HR. Bukhari-Muslim)

Inilah memontum yang terbaik bagi kaum muslimin untuk segera berbenah dan melakukan perbaikan diri. Merenungi atas segala kesalahan yang pernah dilakukan kemudian bertaubat dan berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi. Ini pulalah kesempatan yang paling tepat untuk memperbaiki kualitas diri dengan meningkatkan intensitas serta kualitas ibadah. Memperbaiki amalan wajib, memperbanyak amalan sunnah, membiasakan tilawah alqur’an, infak dan sedekah serta menebar kebaikan kapan saja dan dimana saja.

Kehadiran bulan Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk mendidik jiwa agar terlatih untuk selalu dekat dengan Sang Maha Pencipta serta selalu menghambakan diri secara total hanya kepadaNya. Hal inilah yang akan membentengi kita dari segala perbuatan maksiat dan perbuatan tercela, sehingga taubat kita benar-benar bernilai taubatan nasuha.

WaAllahu A’lam

Umu Sulaimah S.PdI
Guru SDIT Ulul Albab dan
Direktur LSM Pendampingan Pelajar AL Kindi Club
Kota Pekalongan (085641735644)

Jadikan Ramadhan Lebih Bermakna

Mutiara Hikmah Ramadhan

" Jadikan Ramadhan Lebih Bermakna "

Bulan Ramadhan kembali datang menyapa dengan sepenuh kemuliaannya. Selama nafas masih dikandung badan maka dengan rutinnya Ramadhan akan hadir menjumpai kita. Menawarkan keistimewaannya yang tiada tara. Mungkin sudah tak terhitung berapa kali kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dan merasai nikmatnya beribadah di Bulan itu. Namun, substansinya bukan berapa kali kita telah mendapati bulan Ramadhan atau berjumpa dengan Ramadhan, tetapi seberapa maksimalkah kita memanfaatkan momentum Ramadhan untuk melakukan proses perbaikan diri.

Jika kita menilik kembali sejarah hidup Rasulullah, para Sahabat dan para Salafussholeh (semoga Allah merahmatinya), betapa mereka mempersiapkan dan menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita dan melakukan persiapan jauh-jauh hari sebelum datangnya Ramadhan. Di penghujung bulan Sya'ban Rasulullah pernah bersabda " Barang siapa yang bergembira memasuki bulan Ramadhan, maka sungguh jasadnya diharamkan masuk kedalam api neraka". Tentunya kata "gembira" di sini tak sekedar dimaknai gembira secara emosional dan meluapkannya dengan membunyikan petasan atau sekedar membersihkan rumah atau tempat ibadah saja. Namun, gembira disini lebih dimaknai ke arah persiapan yang optimal untuk menghadapi bulan Ramadhan yang mulia dengan mengisi dengan aktifitas-aktifitas ibadah. sehingga sangat pantas orang-orang yang seperti inilah yang akan terhindar dari api neraka.

Tak heran jika Rasulullah dan para sahabatnya melakukan persiapan yang optimal dalam menyambut hadirnya bulan Ramadhan. Karena mereka memahami keutamaan dan fadhilah yang terkandung dalam bulan ini, bahkan dalam sebuah hadits juga disebutkan " Jika seandainya umatku tahu akan keutamaan bulan Ramadhan maka niscaya mereka akan memohon kepada Allah agar setiap bulan adalah bulan Ramadhan". simak kembali bagaimana dengan bait-bait do'a yang dilantunkan Rasulullah SAW " Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan" bentuk luapan kegembiraan dan pengharapan yang mereka lakukan adalah dengan menata diri secara maksimal dalam menghadapi Ramadhan dan mengisinya dengan aktivitas yang menambah kadar kualitas dan kuantitas Ibadahnya, sehingga kehadiran Ramadhan benar-benar membawa makna perubahan.

Salah satu persiapan yang dilakukan adalah mempersiapkan kondisi ruhiyan dan keimanan dengan sebaik-baiknya. Karena pada bulan Ramadhan intensitas peribadatan meningkat dibandingkan pada bulan-bulan sebelumnya. Tanpa bekal ruhiyah dan keimanan yang mapan, tentunya akan kedodoran saat Ramadhan datang menjelang. Yang hampir setiap detik dan setiap waktunya memaksa kita untuk mengisi dengan aktivitas yang bernilai ibadah, agar dapat memanfaatkan momentum Ramadhan untuk melakukan incharge diri sehingga akan mendapatkan barakahnya. Tanpa persiapan sejak awal pastilah akan megap-megap.

Kita akan melihat hasil yang sangat berbeda antara orang yang terbiasa melakukan aktivitas ibadah dengan orang yang tiba-tiba rajin beribadah saat Ramadhan datang menjelang. Berpuasa misalnya, orang yang sudah terbiasa melakukan aktivitas tersebut di luar bulan Ramadhan tentunya akan lebih siap dalam menahan diri dari sekeder lapar dan haus namun mampu mengekang hawa nafsunya. Begitu juga dengan aktivitas membaca Alqur’an dan qiyamullail, orang yang sudah terbiasa melakukan di luar bulan Ramadhan tentunya tidak akan terkaget-kaget. Dan ketika Ramadhan datang mereka telah siap untuk melakukan peningkatan kualitas dan kuantitasnya saja. Jelaslah tentu akan berbeda hasilnya antara orang yang melakukan persiapan dan orang yang sama sekali tanpa memiliki bekal persiapan apapun.

Hal lain yang layak di persiapkan adalah mempersiapkan ilmu pengetahuan dan kefahaman yang berkaitan dengan fiqh puasa, sehingga akan lebih memaknai bahwa hadirnya Ramadhan tak sekedar sebuah rutinitas puasa menahan rasa lapar dan rasa haus saja. Namun, mampu memetik hikmah atas kemuliaan bulan Ramadhan. Bisa jadi, banyak dari kita telah mempersiapkan hadirnya Ramadhan dengan ruhiyah, keimanan serta kesiapan fisik akan tetapi melalaikan tentang fiqh puasa itu sendiri. Tentunya kita menyadari bahwa orang-orang yang beramal dengan mengetahui ilmunya, amalnya akan bernilai lebih di sisi Allah dan juga di mata manusia dibandingkan mereka yang beramal tanpa mengetahui ilmunya.

Mumpung masih ada kesempatan bertemu dengan Bulan Ramadhan marilah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Agar Ramadhan benar-benar membawa kita menjadi pribadi-pribadi yang memiliki derajat taqwa di sisi Allah SWT. Kehilangan sedikit saja waktu di bulan Ramadhan tanpa aktivitas ibadah itu artinya akan kehilangan kesempatan untuk meraih kemuliaan. Rasulullah bersabada “ Bulan Ramadhan telah menaungimu, bulan yang penuh mulia ini telah datang di tengah-tengah kamu, di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barang siapa yang tidak mendapatinya, maka ia telah kehilangan kebaikan seluruhnya, dan tidak ada yang tidak mendapatkannya kecuali orang-orang yang merugi.” (HR. Ibnu Majjah).

Akhirnya tak ada alasan untuk tidak memanfaatkan momentum Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Karena Allah telah menyediakan kemuliaan dan keistimewaan bersamanya.

Wa’Allahu A’lam
Umu Sulaimah S.PdI
Direktur LSM Pendampingan Pelajar AL Kindi Club
Kota Pekalongan (085641735644)