Diakui atau tidak, peran perempuan dalam kehidupan ini memberikan arti tersendiri di setiap persada sejarah. Baik yang sudah pasti bagi mereka (peran domestic) maupun peran public. Bukan menjadi hal yang rumit dimasa sekarang ketika mengharap perempuan memainkan beberapa perannya sekaligus. Perempuan kemudian menjelma menjadi wonderwomen. Yang memiliki kapasitas ideal, sehingga dapat mengisi pos-pos penting dalam urusan domestic maupun urusan public.
Banyak anggapan yang memang perlu dikuatkan dengan data akurat melalui penelitian, bahwa pada praktiknya perempuan cenderung lebih gemi, nastiti dan prasaja dalam menjalani aktivitas kesehariannya. Dan hal tersebut merupakan factor utama bagi siapapun untuk menuai keberhasilan dalam menjalankan setiap peran.
Peran domestic perempuan tak bisa dianggap enteng dan ringan, tidak mudah menyelesaikan setiap pekerjaan rumah, misalnya tanpa bekal kesabaran dan keuletan. Hal inilah yang sering kali luput dari pandangan dan penglihatan kita semua. Sehingga menganggap remeh urusan-urusan domestic. Padahal peran ini merupakan peran yang sangat luar biasa, tidak semua orang mampu menjalankannya. Terlebih bagi perempuan, yang menjalankan dualisme perannya sekaligus.
Meskipun dalam beberapa anggapan yang lain bahwa, sering kali perempuan diletakkan dalam posisi konco wingking atau bahkan hanya sebagai objek kapitalisme dalam proses transformasi social ekonomi. Dalam hal ini saya mengajak untuk melihat semua ini dari kacamata yang berbeda. Agar anggapan tersebut tidak menjadi suatu momok yang akhirnya dengan sendirinya kita akan membenarkan anggapan tersebut. Karena bagaimanapun juga perempuan harus berkiprah. Ada banyak peran yang nyata-nyata dapat dikerjakan oleh perempuan. Bukan bermaksud memprovokasi, hanya sekedar mengajak, mari tengok dari sisi pandang yang lain.
Perempuan disetiap sisinya merupakan makhluq yang secara unik tercipta untuk memperindah dan mempercantik kehidupan ini. Dengan kesabaran dan keuletan tak sedikir perempuan mampu menghancurkan dinding egoisme kaum laki-laki. Percaya atau tidak itu realitanya. Banyak para tokoh-tokoh paling bergengsi sekalipun, pasti tak akan pernah lepas dari sosok inspirator seorang ibu, istri atau anak perempuannya.
Namun bukan berarti hal ini tidak menyisakan suatu keraguan bagi seorang perempuan untuk memulai kiprahnya. Ada sebentuk keraguan yang bermula dari ketidak mampuan untuk mengukur kapasitas diri, sehingga meskipun secara fitrah potensi perempuan itu bisa berkembang dengan baik namun rupanya mandul dengan sendirinya. Oleh karena, ketidak sigapan menangkap potensi unggulan yang khas dikaruniakan bagi seorang perempuan. Yang tersisa adalah keraguan. Bagaimana kita bisa mengungkap keadaan ibu rumah tangga (perempuan) yang tidak mengambil peran public, apakah sesungguhnya mereka menikmati kondisi ini ataukah sebetulnya mereka tetap mengeluh atas keadaannya, ataukah melihat lingkungan (baca:keluarga) yang diuntungkan atau malah dirugikan karena keterlibatan perempuan dalam ruang public. Hanya perempuan yang mampu menjawabnya.
Tak selayaknya kebimbangan itu terus merajai, sehingga perempuan tak lagi mampu memperjuangkan eksistensinya. Meskipun sesungguhnya perempuan terkadang tak butuh pengakuan, hanya butuh ruang dan kesempatan untuk melakukan pembuktian. Ruang dan kesempatan perlu diciptakan bukan malah dibatasi. Mengatas namakan pada letak dasar perempuan paripurna, harus tetap berada dalam batasan-batasan ruang domestiksnya sehingga memberikan dinding pembatas yang teramat tinggi dan sulit untuk ditembus. Bukankah kemaslahatan (kebaikan) semaikn dapat dirasakan lingkungannya, manakala seorang perempuan mampu berkiprah tanpa membatasi pada sekat-sekat domestic ataupun public. Semua layak untuk diperjuangkan. Dunia ini tetap menantikan kiprah perempuan, sebagai peletak dasar pembangunan peradaban.
“ seperti semangat Kartini yang tak pernah mati. Meskipun singkat hidupnya, kita dapat bercermin. Hidupnya penuh obsesi dan mimpi, tak sekedar pada batasan sekat emansipasi namun lebih dari itu “
Selamat hari Kartini, bagi Perempuan Indonesia !!
Pekalongan, 21 April 2009
ibu akhir zaman yang fakir ilmu, yang belajar menguatkan azam menjadi salah satu batu bata pembangun peradaban Rabbani.
Selasa, 21 April 2009
Jumat, 10 April 2009
Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Suara Pembaca Duta Masyarakat, Kamis 9 April 2009
Hari ini, Kamis (9/4), adalah momentum perubahan. Masyarakat Indonesia menuju tempat pemungutan suara untuk menentukan wakil-wakilnya yang akan duduk di kursi DPR/DPRD/DPD periode 2009-2014. Dengan segenap kesadaran, pilihan politik yang dilakukan di bilik suara berpengaruh terhadap perjalanan bangsa dan negara. Maka, tak ada pilihan lain kecuali memilih caleg secara cerdas dan tidak asal-asalan.
Dalam hal ini, masyarakat hendaknya tidak mudah dibohongi begitu saja dengan janji-janji para caleg. Masyarakat tentu memahami bahwa setiap kampanye para caleg selalu menjanjikan suatu perbaikan. Tidak mungkin ada caleg malah berkampanye yang tidak prorakyat. Masyarakat perlu menilai rekam jejak caleg selama ini untuk menentukan pilihan secara cerdas. Pengabdian sosial caleg menjadi salah satu kriteria yang menentukan layak tidaknya caleg dipilih. Amat naif ada caleg yang menampakkan kepedulian terhadap masyarakat saat kampanye, tapi selama ini tidak pernah terjun nyata di tengah masyarakat. Jika ada caleg menggunakan jargon-jargon prorakyat saat kampanye, maka itu adalah kewajaran. Pertanyaannya, apakah selama ini caleg tersebut hidup bersama masyarakat?
Tak bisa dilupakan, masyarakat hendaknya tidak terpengaruh dengan politik uang (money politics) yang mungkin dilakukan caleg. Masyarakat berhak memilih tanpa tekanan dan paksaan. Masyarakat hendaknya memilih bukan karena sejumlah uang yang diterima untuk memilih caleg tertentu. Perlu menjadi kesadaran bahwa uang yang diterima hanya kenikmatan sesaat, tapi berefek buruk bertahun-tahun lamanya. Dengan melakukan money politics, caleg ketika terpilih akan menyandera negeri ini dengan perilaku korupsi.
Disadari atau tidak, Pemilu 2009 bisa dikatakan merupakan taruhan bagi masyarakat. Artinya, salah memilih akan berdampak buruk lima tahun ke depan dan begitu juga sebaliknya. Tentu saja masyarakat tidak bisa menggeneralisir seluruh caleg jelek. Di antara banyaknya caleg tentu masih ada yang baik, tulus mengabdi, dan peduli. Masyarakat berhak menilai siapa caleg yang memang benar-benar tepat untuk menjadi wakilnya di gedung dewan. Kini saatnya masyarakat menghadirkan lembaga legislatif yang bersih dan yang benar-benar bekerja bagi kepentingan masyarakat. Ketika nantinya menuju tempat pemungutan suara, masyarakat perlu menguatkan tekad bahwa pilihan politik yang diambil adalah pilihan perubahan untuk membawa Indonesia lebih baik. Pilihan perubahan bahwa Indonesia harus menapak ke depan dalam kemajuan. Masyarakat berkewajiban menjadikan lembaga legislatif lebih bermartabat dengan memilih caleg secara tepat. Ya, saatnya Indonesia memilih untuk perubahan! Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat LPM Transformasi UNY
http://dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=14628
|
Dimuat di Suara Pembaca Duta Masyarakat, Kamis 9 April 2009
Hari ini, Kamis (9/4), adalah momentum perubahan. Masyarakat Indonesia menuju tempat pemungutan suara untuk menentukan wakil-wakilnya yang akan duduk di kursi DPR/DPRD/DPD periode 2009-2014. Dengan segenap kesadaran, pilihan politik yang dilakukan di bilik suara berpengaruh terhadap perjalanan bangsa dan negara. Maka, tak ada pilihan lain kecuali memilih caleg secara cerdas dan tidak asal-asalan.
Dalam hal ini, masyarakat hendaknya tidak mudah dibohongi begitu saja dengan janji-janji para caleg. Masyarakat tentu memahami bahwa setiap kampanye para caleg selalu menjanjikan suatu perbaikan. Tidak mungkin ada caleg malah berkampanye yang tidak prorakyat. Masyarakat perlu menilai rekam jejak caleg selama ini untuk menentukan pilihan secara cerdas. Pengabdian sosial caleg menjadi salah satu kriteria yang menentukan layak tidaknya caleg dipilih. Amat naif ada caleg yang menampakkan kepedulian terhadap masyarakat saat kampanye, tapi selama ini tidak pernah terjun nyata di tengah masyarakat. Jika ada caleg menggunakan jargon-jargon prorakyat saat kampanye, maka itu adalah kewajaran. Pertanyaannya, apakah selama ini caleg tersebut hidup bersama masyarakat?
Tak bisa dilupakan, masyarakat hendaknya tidak terpengaruh dengan politik uang (money politics) yang mungkin dilakukan caleg. Masyarakat berhak memilih tanpa tekanan dan paksaan. Masyarakat hendaknya memilih bukan karena sejumlah uang yang diterima untuk memilih caleg tertentu. Perlu menjadi kesadaran bahwa uang yang diterima hanya kenikmatan sesaat, tapi berefek buruk bertahun-tahun lamanya. Dengan melakukan money politics, caleg ketika terpilih akan menyandera negeri ini dengan perilaku korupsi.
Disadari atau tidak, Pemilu 2009 bisa dikatakan merupakan taruhan bagi masyarakat. Artinya, salah memilih akan berdampak buruk lima tahun ke depan dan begitu juga sebaliknya. Tentu saja masyarakat tidak bisa menggeneralisir seluruh caleg jelek. Di antara banyaknya caleg tentu masih ada yang baik, tulus mengabdi, dan peduli. Masyarakat berhak menilai siapa caleg yang memang benar-benar tepat untuk menjadi wakilnya di gedung dewan. Kini saatnya masyarakat menghadirkan lembaga legislatif yang bersih dan yang benar-benar bekerja bagi kepentingan masyarakat. Ketika nantinya menuju tempat pemungutan suara, masyarakat perlu menguatkan tekad bahwa pilihan politik yang diambil adalah pilihan perubahan untuk membawa Indonesia lebih baik. Pilihan perubahan bahwa Indonesia harus menapak ke depan dalam kemajuan. Masyarakat berkewajiban menjadikan lembaga legislatif lebih bermartabat dengan memilih caleg secara tepat. Ya, saatnya Indonesia memilih untuk perubahan! Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat LPM Transformasi UNY
http://dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=14628
|
Rabu, 08 April 2009
Ikhwan siap luncurkan film tentang As Syahid

Sebuah film layar perak tentang perjalanan hidup Imam Hasan Al Banna siap diluncurkan. Namun kemungkinan besar pemerintah Mesir masih akan melarang film ini sehubungan dengan posisi Ikhwan. Film ini akan menceritakan seluruh perjalanan Imam Syahid.
Sepenuhnya film ini dibiayai oleh anggota Ikhwan Muhsin Ra'di dan menjadi salah satu film berbudget tertinggi di Mesir, mencapai $4 juta. Tidak mengherankan jika film ini diperkirakan akan menjadi film kolosal pula karena melibatkan banyak pihak juga. Rencananya film ini akan diberi judul "Hasan Al-Banna and an Undiminished Journey."
Putra Imam Syahid, Ahmad Seif Al-Islam Hasan Al-Banna, mengatakan bahwa film ini merupakan gambaran jelas tentang perjuangan ayahnya. Skenario akan ditangani oleh Dr. Walib Quthb, namun belum dipastikan siapa sutradara yang akan menangani proyek film ini.
Film ini sebenarnya sudah direncanakan dan dirancang sejak dua tahun yang lalu, namun masih terus mendapat tentangan keras dari pemerintah Mesir. Bahkan para pemerhati dan kritikus belum apa-apa sudah memperkirakan bahwa film ini tidak akan bisa diputar di Mesir. Jika pun beredar, maka dipastikan akan melewati banyak sensor terlebih dahulu. Ra'di mengatakan bahwa jika tidak ada hambatan, maka semua kru yang terlibat dalam film ini dipastikan tidak boleh mengalami pencekalan dari pemerintah.
Legalitas Hasan al-Banna di Mesir begitu kuat, tapi akankah pemerintah Hosni Mubarrak mengizinkan musuh terbesar Mesir dan Mobarrak itu menyuarakan kisahnya? Kita layak menunggunya. (sa/jp)
Langganan:
Komentar (Atom)