Seperti biasa, tas ransel hitam masih setia menemaniku, cukup berat memang isinya, namun tak seberat beban yang ada dipundakku.
Setelah kuterima tawaran untuk mentransfer sebagian ilmu yang kuperoleh dibangku kuliah, bersama celotehan anak-anak yang kan kudengar setiap waktu.
" Aku belum lulus, mba " …. Desahku
Sesaat setelah mendengar tawaran tentang sebuah amanah baru untuk membersamai anak-anak, dari teman satu halaqohku,..
Sejenak kuterpaku keraguan membuncah mengisi ruang fikir, yang telah sesak, mengingat amanahku untuk menjadi kordes dan sekretaris korcam selama aku KKN juga belum usai untuk ku tunaikan. 3 minggu lagi pengabdianku di desa terpencil ini baru akan berakhir, kehidupan pedesaan yang mengajarkan akan arti sebuah ketulusan dan kesederhanaan.
Meskipun tak dapat kuingkari, ini merupakan sebuah tawaran yang sangat istimewa bagiku, sebuah sekolah ternama dikotaku, bersedia menerima lamaranku meski gelar sarjana belum kusabet, hanya berbekal transkip nilai terakhir dg IP 3,86.
Keraguan masih terus membuntutiku, hingga kucoba mantapkan azam, pemberkasanpun ku lalukan, meski harus bolak-balik dari desa tempat ku KKN menuju gerbang sekolahan itu yang berjarak sekitar 37 KM, belum lagi amanahku sebagai koordinator desa, yang tengah mempersiapkan event besar yang digelar bersama teman-teman KKN.
Proses seleksipun aku ikuti, satu persatu soal-soal kujawab. Sembari memantapkan azam ya Rabbi berikanlah yang terbaik untukku. Dengan harapan, semoga muwashofat kadirun 'alal kasbi dapat kupenuhi, kader dakwah harus mandiri prinsipku.
Kuseka peluh diwajahku, beban berat ini akhirnya terkurangi,…
Hari ini terakhirku KKN. Pelepasan di kantor kecamatan, menyisakan kesedihan tak berperi, air mata tak terbendung, mengalir dengan derasnya,..
Desa yang penuh kenangan akan segera kutinggalkan.
Bus telah berjajar menunggu deretan kafilah KKN dikembalikan kekampus, dengan harapan telah banyak pelajaran mereka dapatkan dan ruang pengabdian telah terpenuhi oleh sederet aktivitas serta bermacam-macam kegiatan.
Ponselku berbunyi, Pesan masuk dari No HP yang tak kukenal,..
Berisi panggilan untukku memasuki dunia baru,..
"Faidza Faroghtafanshob.........."
Gumamku……
Tepat sehari setelah aku KKN, aku sudah mulai masuk ke sekolah itu,,.
Illahi tak terbayangkan,..
Bagaimana aku dapat membagi waktuku, belum juga terpikir bagaimana nasib Skpripsiku, tapi sudahlah, buru-buru kutepis keraguan itu.
Kesungguhan adalah jawabannya, ketika Allah berikan pilihan ini, tentu Ia lebih tahu yang terbaik untukku.
Lari Sprint yang segera harus kulakukan,..
Kupandang sekeliling ruang kelas mungil, yang bakalan aku huni bersama 18 siswa, amanah baru untuk menjadi wali kelas akhirnya kuterima juga,
Meski akupun menyadari aku tak seSabar bu Muslimah, gurunya Ichal dalam Laskar Pelangi atau tak seideal Umar Bakri dalam syairnya Iwan Fals,.
Ku hanya punya harapan, dengan mereka kan kurangkai bait dan cerita tentang indahnya belajar dan kesungguhan untuk mengukir prestasi bersama-sama.
Kini kulakoni dua fungsi sekaligus, mahasiswa dan guru, meskipun bukan sesuatu hal yang mungkin istimewa, namun aku senang menjalaninya..
Allah begitu indah, Kau lukis alur hidupku…….
Bersambung…………….
Pekalongan, 10 Juli 2008
ibu akhir zaman yang fakir ilmu, yang belajar menguatkan azam menjadi salah satu batu bata pembangun peradaban Rabbani.
Senin, 29 Desember 2008
Minggu, 28 Desember 2008
MENARA SYURGA
Ku eja angka Sembilan puluh Sembilan koma Sembilan
Diantara titik puncak menara kehidupan
Lelah hati melingkar bumi
Menggapai mimpi yang tak pernah henti
Ku eja angka Sembilan puluh Sembilan koma Sembilan
Diantara desir do'a diujung pengharapan
Bercerita tentang kemesraan Syurga
Yang tersenyum dilangit-langit kesadaran
Ku tata langkah bersama asa yang membuncah
Tengadah tangan
Berharap pada kuasaMu
Tuhan…………
Pekalongan, April 2008
Ku eja angka Sembilan puluh Sembilan koma Sembilan
Diantara titik puncak menara kehidupan
Lelah hati melingkar bumi
Menggapai mimpi yang tak pernah henti
Ku eja angka Sembilan puluh Sembilan koma Sembilan
Diantara desir do'a diujung pengharapan
Bercerita tentang kemesraan Syurga
Yang tersenyum dilangit-langit kesadaran
Ku tata langkah bersama asa yang membuncah
Tengadah tangan
Berharap pada kuasaMu
Tuhan…………
Pekalongan, April 2008
Sang Murabbi
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Terik matahari
Tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai
Tak lunturkan azzammu
Raga kan terlukaTak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia
Tak silaukan pandangmu
Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atasmu
Duhai pewaris nabi
Duka fana tak berartiSurga kekal dan abadi
Balasan ikhlas di hati
Cerah hati kamiKau semai nilai nan suci
Tegak panji IllahiBangkit generasi Robbani
-Izzatul Islam-
Pelosok negri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Terik matahari
Tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai
Tak lunturkan azzammu
Raga kan terlukaTak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia
Tak silaukan pandangmu
Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atasmu
Duhai pewaris nabi
Duka fana tak berartiSurga kekal dan abadi
Balasan ikhlas di hati
Cerah hati kamiKau semai nilai nan suci
Tegak panji IllahiBangkit generasi Robbani
-Izzatul Islam-
Harap dan Asa

Dalam kehampaan
Ku berharap, Asa masih dapat ku temukan
Merangkai kembali bait Cita-cita
Yang mulai memudar warnanya
Ku berharap, Asa masih dapat ku temukan
Merangkai kembali bait Cita-cita
Yang mulai memudar warnanya
Wahai Dzat yang maha Tahu,..
Pertemukan aku
Bersama Fitrah dan Kasih Mu
Yang akan menyeka setiap peluh
Basah diraut wajah
Hilangkan kepura-puraan
Dan kepalsuan
Wahai Dzat yang Maha Perkasa,..
kapankah kiranya
Engkau pertemukan aku dengan petunjukMu
Yang akan membawaku
Menuju singgasana ArsyMu
Menghapuskan kesedihan
Membongkar kebekuan
dan
Memberi warna pada hatiku
Yang kini Kelabu,………
Pekalongan, 28 Desember 2008
Pertemukan aku
Bersama Fitrah dan Kasih Mu
Yang akan menyeka setiap peluh
Basah diraut wajah
Hilangkan kepura-puraan
Dan kepalsuan
Wahai Dzat yang Maha Perkasa,..
kapankah kiranya
Engkau pertemukan aku dengan petunjukMu
Yang akan membawaku
Menuju singgasana ArsyMu
Menghapuskan kesedihan
Membongkar kebekuan
dan
Memberi warna pada hatiku
Yang kini Kelabu,………
Pekalongan, 28 Desember 2008
Kawan Perjalanan
mengalir seperti air yang menyejukkan............
atau udara yang melegakan...atau bumi yang mengokohkan....atau api yang menggelorakan...biarkan ia tumbuh seperti benih yang tersemai&bunga-bunga yang bermekaran......... bukan sekedar bahagia.. tapi bersama meraih SyurgaNya..
terima kasih mba...
atas potongan persembahan
yang menjadi mozaik cantik
pelangkap karya dan usaha..,,
Langganan:
Komentar (Atom)